FROM PROJECT TO INVESTMENT READINESS

Indonesia
Joined November 2010
INDONESIA MEMBUTUHKAN INVESTOR, TETAPI INVESTOR MEMBUTUHKAN PROYEK YANG SIAP Foreign Direct Investment (FDI) sering dibicarakan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi. Namun, mendatangkan investor asing bukan sekadar persoalan menawarkan peluang atau mempertemukan pengusaha dengan pemilik modal. Ada pekerjaan penting yang harus dilakukan sebelum sebuah proyek benar-benar siap ditawarkan. Banyak pemilik usaha memiliki gagasan bisnis yang potensial. Mereka menyiapkan proposal, membuat executive summary, lalu mulai mencari investor. Padahal, gagasan yang menarik belum tentu menjadi peluang investasi yang layak. Investor perlu memahami pasar, kebutuhan modal, potensi pendapatan, risiko, dan bagaimana proyek tersebut akan dijalankan. Di sinilah project development berperan. Gagasan bisnis perlu diterjemahkan menjadi rencana yang terstruktur melalui analisis pasar, kajian teknis, model keuangan, studi kelayakan, identifikasi risiko, serta perencanaan pelaksanaan. Kedalaman kajian disesuaikan dengan karakteristik dan kompleksitas proyek. Setelah itu, proyek perlu dipersiapkan agar memenuhi kebutuhan evaluasi investor. Proses ini dikenal sebagai investment readiness. Tujuannya bukan menjamin investasi akan terjadi, melainkan menyediakan dasar informasi yang memadai agar investor dapat menilai peluang secara lebih rasional. Pekerjaan tersebut membutuhkan waktu, keahlian, dan biaya. Karena itu, sponsor proyek perlu memahami bahwa persiapan investasi merupakan bagian dari pengembangan bisnis, bukan sekadar biaya administrasi sebelum mencari pendanaan. Jika sponsor tidak memiliki sumber daya yang cukup, alternatif pembiayaan tahap pengembangan dapat dipertimbangkan melalui struktur yang sesuai. FDI yang berkualitas pada akhirnya membutuhkan lebih dari sekadar investor yang memiliki modal. Indonesia juga membutuhkan sponsor yang serius, proyek yang dipersiapkan dengan baik, serta dukungan profesional yang mampu menjembatani potensi bisnis dengan kebutuhan investor. Investor membawa modal. Sponsor membawa peluang. Project development dan investment advisory membantu menjembatani keduanya menjadi peluang investasi yang dapat dievaluasi secara profesional.
2
3
227
Aminvest retweeted
Bongkar pasang kabinet 8 kali dalam 2 tahun menandakan apa guys?
1
1
11
Aminvest retweeted
Keracunan MBG lagi, keracunan MBG lagi.....
1
1
15
Aminvest retweeted
Sebenarnya mereka menganggap mahasiswa dan masyarakat sipil apa?
eh buset.. 14.324 personel gabungan TNI dan Polri turun buat mengamankan aksi demo di Bundaran HI. ini emang niat mengamankan demo apa perang ngelawan rakyat, pdhal jumlah masa yang demo aja gk sampe segitu
1
1
19
Aminvest retweeted
Tidak semua orang yang gila masuk RSJ.
1
1
138
Aminvest retweeted
Sempat viral.. Krn disinformasi Ketika Chandra Hamzah mengingatkan pasal yg bisa saja digunakan menjerat penjual pecel lele diasumsikan sbg penjual pecel lele diklasifikasikan sbg pelaku tindak korupsi 🫣 Gegara mengambil berita/ video sepotong2... Issue ini muncul stlh ada uji materiil ttg kerugian negara. Perkara tersebut pd intinya mengujikan dua pasal yg berisi ketentuan menjerat perbuatan melawan hukum yg mengakibatkan kerugian negara & menguntungkan pihak tertentu. Chandra Hamzah berargumen bahwa kedua pasal itu problematik. Menurut dia, tidak boleh ada perumusan delik yg kurang jelas atau bersifat ambigu maupun tidak boleh ditafsirkan scr analogi shg tidak melanggar asas lex certa maupun lex stricta. Yg begini harusnya lbh jelas.. Bukan yg mendadak minta kerugian negara tidak dikategorikan sbg korupsi demi "membela" apa yg nampaknya akan terjadi.. Akhirnya gmn sih pasal ttg ini? Kasihan mereka yg seharusnya tidak terjerat jd terjerat krn pasal ambigu 😮‍💨 tempo.co/politik/chandra-ham…
16
19
932
Apakah langkah ini merupakan jalan terbaik? Bukankah salah satu konsekuensi penutupan perusahaan adalah hilangnya lapangan pekerjaan? Mereka yang bekerja di BUMN juga rakyat lho. Semoga saja ada solusinya bagi mereka. share.google/PIXVB26OY5qkdgi…
1
1
157
Aminvest retweeted
Moral Fatigue: Ketika Negara Berhenti Mendengar, Rakyat Berhenti Berharap Lima tuntutan mahasiswa yang disuarakan dalam demonstrasi di Jakarta hari ini, 28 Oktober, mencerminkan kegelisahan yang lebih luas daripada sekadar persoalan politik sesaat. Ketidakadilan, kriminalisasi, penanganan bencana yang bermasalah, eksploitasi sumber daya alam yang tidak berpihak kepada rakyat, hingga penggunaan anggaran negara yang lebih mencerminkan selera kekuasaan daripada kebutuhan publik, semuanya menyentuh pertanyaan mendasar: untuk siapa sesungguhnya negara bekerja? Apakah demonstrasi akan menghasilkan perubahan? Kita tidak tahu. Namun, ada persoalan yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada berhasil atau tidaknya sebuah demonstrasi, yakni kelelahan moral masyarakat (moral fatigue). Dalam perspektif ini, kita bisa membaca keadaan ketika masyarakat berulang kali menyaksikan ketidakadilan, turun ke jalan, menyampaikan kritik, dan menuntut perubahan, tetapi kemudian kembali berhadapan dengan persoalan serupa. Sedikit demi sedikit, kepedulian dapat berubah menjadi kejenuhan, kekecewaan menjadi sinisme, dan harapan menjadi skeptisisme. Bukan karena masyarakat tidak lagi memahami mana yang benar dan salah, melainkan karena mereka mulai meragukan apakah memperjuangkan kebenaran masih membawa arti. Kelelahan itu semakin dalam ketika kekuasaan tampak tuli terhadap suara rakyat. Demokrasi memang tidak mewajibkan pemerintah memenuhi setiap tuntutan, tetapi mewajibkan kekuasaan untuk mendengar, menjelaskan keputusan, mempertanggungjawabkan kebijakan, dan memperbaiki kesalahan. Ketika demonstrasi berulang kali berlangsung tanpa respons yang memadai, masyarakat bisa mulai mempertanyakan makna partisipasi mereka. Untuk apa bersuara jika suara itu tidak mengubah apa pun? Untuk apa mengawasi kekuasaan jika kritik hanya berakhir sebagai kebisingan yang segera dilupakan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini berbahaya bukan karena menunjukkan kemarahan, melainkan karena menandai tumbuhnya ketidakpercayaan. Di sinilah kita perlu berhati-hati. Negara tidak serta-merta runtuh karena rakyatnya berdemonstrasi. Justru, demonstrasi merupakan salah satu saluran demokrasi agar ketegangan antara masyarakat dan kekuasaan dapat disampaikan secara terbuka. Namun, sebuah negara patut khawatir ketika rakyat mulai kehilangan keyakinan bahwa suara mereka masih memiliki arti. Ketika kepercayaan terhadap institusi terus terkikis, yang melemah bukan hanya legitimasi pemerintah, tetapi juga ikatan emosional dan sosial yang membuat masyarakat merasa bahwa negara ini adalah milik bersama. Persatuan nasional tidak cukup dipelihara melalui slogan, seremoni, atau seruan cinta tanah air. Ia membutuhkan keadilan yang dapat dirasakan, kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kekuasaan yang bersedia dikoreksi. Karena itu, demonstrasi mahasiswa hari ini penting, terlepas dari apakah seluruh tuntutannya segera dipenuhi. Bukan karena demonstrasi selalu menjadi jawaban, melainkan karena masyarakat tidak boleh kehilangan ruang untuk menyatakan keberatan dan memperjuangkan perubahan. Kita juga tidak boleh membiarkan skeptisisme berkembang menjadi sikap masa bodoh yang menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang lumrah. Sebab, ketika rakyat berhenti berharap, belum tentu keadaan telah membaik. Bisa jadi, mereka hanya terlalu lelah untuk kembali kecewa. Dan ketika penguasa tidak lagi mendengar, sementara rakyat perlahan berhenti percaya, yang dipertaruhkan bukan sekadar nasib sebuah pemerintahan, melainkan kekuatan kepercayaan yang menjaga sebuah bangsa tetap berdiri bersama. megapolitan.kompas.com/read/…
2
2
1
144
Aminvest retweeted
Kami Rakyat Indonesia menolak korupsi, kolusi dan nepotisme. Kami Rakyat Indonesia menolak segala ketidakadilan dan otoritarianisme. Kami Rakyat Indonesia menolak perusakan terhadap lingkungan hidup dan eksploitasi SDA demi kepentingan kelompok tertentu.
3
10
350
Aminvest retweeted
VOX POPULI, VOX DEI. Suara rakyat adalah suara Tuhan! 🇮🇩✊ Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran. Jangan pernah menyerah memperjuangkan keadilan. Kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan amanah yang harus terus dijaga. Berjuanglah dengan kepala dingin, hati yang teguh, strategi yang matang, dan solidaritas yang kuat. Jangan biarkan provokasi memecah barisan. Jangan biarkan amarah merenggut nyawa yang justru sedang kita perjuangkan masa depannya. Kita tidak berjuang untuk menciptakan korban baru. Kita berjuang agar tak ada lagi rakyat yang menjadi korban ketidakadilan. Tetap berani. Tetap bersatu. Tetap waspada. Jangan menyerah! Indonesia merdeka bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga dari ketakutan, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan. MERDEKA!
5
24
1
43
818