Ia menghampiri Umemiya. Meski lebam-lebam segar dan goresan luka di wajahnya—sisa pertarungan singkat baru saja—senyumnya terkembang lebar tanpa beban.
“Kami sedang patroli mencari penjahat yang berani mengganggu Kota Furin, loh! Haha!” serunya dengan nada ceria,
Umemiya hanya tertawa kecil melihat tingkah Choji, menggeleng pelan sambil menepuk pundaknya hangat. Di bawah naungan langit sore Kota Furin, tawa mereka bersatu—sebuah pertanda bahwa kota tersebut kini berada di tangan orang-orang yang tepat.