Hampir tidak ada buku salat yang menjelaskan tentang merasakan ketenangan dalam salat, merasakan keindahan sujud, dan lain sebagainya. Itu terjadi karena selama ini kita fokus pada fikih. Fikih memang berfokus pada tata cara, sesuatu yang ditanyakan dengan HOW.
Tidak salah, tentu saja, tapi hanya berfokus pada fikih membuat kita hanya akan mendapatkan jawaban untuk HOW (otak kiri), bagaimana cara melakukannya. Bukan apa yang kita rasakan (otak kanan).
Nah, sayangnya, di Indonesia dalam beragama, kita sering “hanya” memakai otak kiri. Karena itu sebagian besar buku tentang salat, itu menjawab pertanyaan bagaimana. Bagaimana cara berdiri dalam salat, bagaimana cara sujud, bagaimana cara rukuk.
Kita pasti sudah sering dengar tentang otak kiri dan otak kanan. Otak kiri dihubungkan dengan hal yg bersifat exact, angka, matematika, yang pasti. Sedangkan otak kanan diasosiasikan dg seni, perasaan, emosi.
Pertanyaannya, dalam beragama, kita pakai otak kiri atau otak kanan?
Oke, dalam sejumlah riset belakangan mmg membuktikan otak kiri dan otak kanan itu gak sekontradiktif yang dikatakan sebelumnya. Tapi kita buat sederhana saja. Otak kanan menjawab pertanyaan WHY dan apa yg dirasa. Sedang otak kiri menjawab pertanyaan HOW, atau bgm melakukannya.
Kata assassin dalam bahasa Inggris berasal dari sebuah kelompok pemberontak di Iran.
Kelompok yang disiapkan untuk membunuh para penguasa dari jarak dekat.
Ini dia kisahnya.
Tapi Hashshashin atau Assassin bukan sekadar pembunuh. Mereka adalah simbol dari perlawanan dalam diam. Duri di sepatu penguasa. Dan karenanya harus dihancurkan. Sejumlah penguasa mencoba menjebol Alamut, tapi gagal. Baru pada 1256, penguasa Mongol akhirnya merebut benteng itu.
Tweet ini berasal dari tulisan saya di majalah Tempo
tempo.co/kolom/asal-usul-kat…


