delynn ini memanggf yaaaa @Delynn_JKT48 . bkin dde marlah besalr
💬: "ledekin ci Delynn"
Trisha: "aku perlhatiin yah, di fyp aku knp ya dia suka bgt membawa-bawa aku di live nya? 😠😠 Maksudnya apa hah? 😠😠"
Maksutnya apa hah? 😠 Dd tica marlah besarl 😠😠 @Delynn_JKT48
@JTrisha_JKT48
Yudha Prasetya Laode retweeted
REALL!! Ternyata bukan overclaim Gigiku beneran tambah putih. Dan karang gigi juga hilang😭
Menyelesaikan 12 orderan cuma dapet Rp76 ribu.
Jahat sumpah, jahat. Anggep deh 1 order completed itu 30 menit. Berarti butuh waktu 6 jam buat dapet 76 ribu perak.
Ini belum termasuk tangible cost kayak bensin, kuota, dan minum.
Belum lagi intangible cost yang ga pernah jadi concern aplikator. Kayak macet, panas, hujan, servis, dan depresiasi kendaraan.
Pemerintah juga bloon bangeeet, sampai bikin banyak rakyatnya ga punya pilihan lain dan kudu kerja kayak gini.
Yudha Prasetya Laode retweeted
Ttttapi… kebanyakan customer di Indonesia itu suka pesan lewat mode Hemat.
“Emang ngaruh, ya?”
Ngaruh, Kak. Aku jelasin di bawah.
Sebelum Grab dan Gojek mendominasi pasar transportasi online Indonesia, pernah ada Uber yang menawarkan pendekatan tarif berbeda.
Salah satu sistemnya adalah surge pricing atau tarif lonjakan. Berbeda dengan sistem tarif yang cenderung datar (fixed pricing) seperti berbagai skema layanan Grab, Gojek, dan ShopeeFood saat ini, Uber memungkinkan tarif meningkat otomatis ketika permintaan sedang tinggi.
Misalnya, saat hujan deras, kemacetan, atau jam sibuk, tarif bisa meningkat 1,5x, 2x, bahkan lebih tinggi. Artinya, semakin sulit kondisi operasional, semakin besar pula peluang pengemudi mendapatkan kompensasi atas pekerjaan yang mereka lakukan.
Pendekatan ini lebih masuk akal dari sisi kompensasi pengemudi dibandingkan tarif murah yang tidak selalu memperhitungkan tambahan waktu dan beban kerja.
Uber akhirnya angkat kaki dari Indonesia pada 2018 dan menjual bisnis Asia Tenggaranya kepada Grab. Sementara itu, Grab, Gojek, dan ShopeeFood terus mengembangkan layanan Hemat untuk mempertahankan transaksi dan menjangkau konsumen yang sensitif terhadap harga.
Masalahnya, strategi ini punya konsekuensi bagi mitra pengemudi.
Konsumen mendapatkan ongkos lebih murah, tetapi pengemudi harus menghadapi tekanan tarif, kemacetan, dan waktu tunggu yang tetap menjadi tanggung jawab mereka.
Sekarang kita masuk ke persoalan order Hemat/gabungan.
Misalnya, pesanan prioritas dengan jarak 0–2 km dibayar Rp7.200. Pengemudi hanya perlu mengambil satu pesanan di restoran dan mengantarkannya kepada satu pelanggan.
Bandingkan dengan pesanan Hemat/gabungan. Pengemudi mendapatkan Rp8.500, tetapi harus mengambil dua pesanan di restoran berbeda dan mengantarkannya kepada dua pelanggan berbeda pula.
Dengan selisih hanya Rp1.300, pengemudi harus mengerjakan dua rangkaian pengambilan dan pengantaran, menghadapi tambahan waktu tunggu, serta menyelesaikan pesanan dalam waktu yang lebih panjang.
Beban kerja bertambah, waktu produktif tersita, tetapi kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan tambahan pekerjaan.
Intinya karena pasar Indonesia sensitif terhadap harga, platform berlomba-lomba menawarkan ongkos murah demi mempertahankan konsumen dan meningkatkan transaksi.
Namun, murah bagi konsumen belum tentu adil bagi pengemudi. Ada tambahan beban kerja dan waktu yang harus ditanggung tanpa kompensasi yang sebanding.
keknya cocokan kalo dibikin kyk vest ga si? jadi itu bagian lengan panjangnya di ilangin jd kliatan maskulin aja wkwk. ehh to sama kek love ntr jadinya
Oshi saya di jkt48 siapa? @grok





























