▲ (@__AAAI) header
▲ (@__AAAI) profile picture
Joined June 2012
Photo by ▲ (@__AAAI)Photo by ▲ (@__AAAI)Photo by ▲ (@__AAAI)Photo by ▲ (@__AAAI)Photo by ▲ (@__AAAI)Photo by ▲ (@__AAAI)Photo by ▲ (@__AAAI)
Berjuang memang tidak pernah seenak mencicipi. Selalu butuh effort yang besar bahkan bisa sampai melukai diri sendiri.
Enggak tahu buat siapa
26
143
20
683
Setelah bertahan 2 tahun, 1 bulan untuk tidak mempertemukan rambutku dengan gunting. Akhirnya hari ini malah rambutku berkompromi dengan gunting.
Merhatiin, tau, diam. Sudah.
Karena kata tak bisa menjelaskan semuanya.
Aduh kasihan
Terkadang kita harus diam saja dan mengamati. Sebelum melanjutkan.
Aku hanya bisa menikmati mu dari sini saja. Tanpa pernah bisa untuk ku sekadar menyentuh mu.
Ada yang singgah karena butuh, ada yang singgah karena betah. Kamu yang mana?
Bukan benci yang membuat orang menjauh, tapi hilangnya respect dan rasa kecewa.
Ingin rasanya untuk bertamu, tapi naasnya kau telah membuat pagar.
Mem Membias Membiasakan
Dulu, asik sekali. Kini, asing sekali.
Hanya tidak menunjukkannya saja.
Karena dalam hidup; semua itu perihal memaafkan, lalu melupakan dan melanjutkan.
Teruslah berdiri dengan kaki sendiri, bersandar dengan bahu sendiri. Sampai semua tangan menghampiri.
Kritik tapi aturannya terlalu banyak. Pedes dikit penghinaan, pencemaran nama baik. Pake fakta, kadang bisa aja dibikin fakta baru sebagai tandingan. Kek contohnya omnibus. Berapa versi itu. Kalo ada yang protes, bilangnya itu versi yang awal. Jatohnya jadi hoax. Mantep dah.
225
2,243
88
10,599
▲ retweeted
tidur tinggal merem elah susah amat
333
549
46
4,803