Pinned Tweet
Sampai seorang manusia sepenuhnya sadar bahwa segala perbuatannya pasti diawasi oleh Allah maka mustahil baginya untuk bersikap benar.
- Al-Ghazali -
andpho retweeted
Mindfulness sebenarnya baik saja, tp memang bisa jadi toxic positivity.
Mindfulness bisa membantu kita mengelola kecemasan dan tetap jernih. Masalah muncul ketika ajakan untuk tenang, bersyukur, menjaga energi, dan berpikir positif justru menggantikan pertanyaan mengapa ini terjadi dan siapa yang bertanggung jawab? Saat berita kebakaran, udara beracun, bencana, keracunan MBG, dan kegagalan pelayanan publik memenuhi ruang informasi, masyarakat memang perlu menjaga kesehatan mental. Tetapi bagi keluarga yang anaknya keracunan, warga yang menghirup PM2.5, atau mereka yang kehilangan rumah dan pekerjaan, masalahnya bukan sekadar mindset. Mereka membutuhkan perlindungan, informasi, layanan, kompensasi, dan pertanggungjawaban.
Di sinilah mindfulness bisa berubah menjadi alat depolitisasi. Penderitaan yang semestinya melahirkan pertanyaan tentang kebijakan justru diperlakukan sebagai persoalan emosi individu. Padahal kemarahan tidak selalu sesuatu yang harus disembuhkan; kadang ia adalah respons moral terhadap ketidakadilan. Yang penting adalah mengubahnya menjadi data, pertanyaan, solidaritas, advokasi, dan tuntutan perubahan. Jangan panik bukan berarti jangan mempertanyakan.
Jangan bermeditasi agar mampu berdamai dengan ketidakadilan; bermeditasilah agar cukup tenang untuk memperjuangkannya.
Tell maudy ayunda to talk about mindfulness to :
1. Yg sesak nafas kena asap kebakaran hutan di sumatera,kalimantan
2. Ortu2 korban keracunan MBG
3. Warga luar jawa yg antre panjang demi beberapa liter bbm
4. Org2 yg kena layoff pdhl ada anak yg hrs sekolah+org tua yg butuh berobat
5. Pedagang kecil dan kaum rentan yg makin susah cari duit krn kaum middle class dan lower economy jg berhemat dan nekan pengeluaran.
Stop being tone deaf, try to napak tanah.
andpho retweeted
Semenjak denger Ustadz felix di podcast ini bener-bener terngiang-ngiang setiap aku kerja🥹
Beliau lagi menjelaskan konsep rezeki, pekerjaan, dan rasa syukur🥹
andpho retweeted
Dapet info A2 kalau mahkamah konstitusi di suatu negara akhir-akhir ini sangat progresif tiap kali uji materi karena secara moral mereka merasa berdosa besar dan ingin menebusnya setelah dulu pernah mengesahkan uji materi menurunkan batas usia cawapres.
Info kesukaan @kafiradikalis nih (``,)
andpho retweeted
Untuk dikatakan menguasai satu ilmu, seseorang harus punya ijazah.
Apa itu ijazah? Dari bahasa Arab berakar kata j-w-z (ج-و-ز) yang bermakna melewati, mengizinkan, atau memberikan izin. Dalam konteks ilmu berarti memberi kuasa atau otoritas keilmuan.
Guru di zaman dahulu menyatakan secara lisan atau tertulis: "Aku ijazahkan kepadamu ilmu ini sebagaimana aku telah diijazahkan oleh guruku sebelumnya," disertai sanad (rantai periwayatan) yang bersambung hingga ke sumber asal, seperti Nabi Muhammad ﷺ.
Tanpa ijazah, seseorang tidak memiliki legitimasi penuh untuk meneruskan ilmu tersebut kepada orang lain. Tradisi ini menjaga keaslian ilmu, mencegah penyimpangan, dan memastikan bahwa pengetahuan disampaikan melalui jalur terpercaya.
Bahkan sistem pendidikan modern di Barat terinspirasi dari model ijazah ini, yang sudah ada ratusan tahun sebelumnya di dunia Islam.
Jadi, ijazah bukan hanya "surat tanda lulus". Ia adalah simbol kepercayaan, tanggung jawab, dan kelanjutan rantai ilmu dari generasi ke generasi.
Di zaman sekarang, ketika banyak orang berburu gelar akademik tanpa dasar otoritas yang jelas, mengingat kembali makna asli ijazah bisa menjadi pengingat penting: ilmu bukan milik pribadi, melainkan amanah yang harus dijaga dan disampaikan dengan izin yang sah.
===
Ijazahmu asli, kan?
andpho retweeted
"Ingatlah bahwa kita akan mati, memento mori".
Pas gue S1 ambil filsafat, pernah sekali di matkul Eksistensialisme kami semua disuruh menulis soal kematian. Gue cuma bisa nulis perihal betapa niscayanya kematian, bahwa karena kita fana maka kita harus menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang-orang yg kita cinta. Narasinya masih external-biased, gue lupa bahkan belum bisa memahami kematian untuk diri gue sendiri.
Kita sedih saat ingat bahwa orang-orang yg kita cintai suatu saat akan mati. Bahkan mungkin beberapa dari kita udah pernah mengalami fase grieving, kita jadi saksi atas kematian orang lain.
Tapi kita sering lupa, jangankan mereka... kita sendiri juga akan mati.
Kita sering pakai kepergian orang lain sebagai peringatan, tapi kita lupa menjadikannya sebagai cermin.
Kita lebih gampang menghadapi kematian orang lain karena kita bisa lihat itu semua dari luar, memprosesnya sebagai peristiwa yg terjadi pada dunia. Tapi kematian kita sendiri selalu di ujung cakrawala, justru karena itu paling mudah diabaikan.
Kita tuh lucu yah kadang... Kalo orang terdekat sakit, mungkin kita tiba-tiba jadi 'hadir'. Kita telfon mereka lebih sering, jengukin, kita ungkapin bentuk sayang tanpa ragu.
Tapi pernah gak nanya ke diri sendiri, "kalo aku besok gak ada, apakah hari ini cukup begini adanya?"
Apakah cara gue hidup hari ini adalah cara yang akan gue setujui kalo gue tahu ini hari terakhir gue?
Apakah gue hidup dengan sadar, atau cuma gerak, nunda, menghindar, nunggu waktu yg "tepat" yg mungkin ga pernah dateng?
Kalo kita belanja ke supermarket, makin banyak yg kita beli makin lama kita di kasir. Hidup juga begitu ke kita. Whatever we do, we will pay for it.
Setiap pilihan yg kita buat, setiap hal yg kita ambil dan kita tinggalkan, setiap momen yg kita isi atau kita biarkan kosong -- semua itu membentuk antrian yg harus kita pertanggungjawabkan, bukan kepada Tuhan atau kepada orang lain, tapi kepada diri kita sendiri.
So, 'memento mori, memento vivere -- ingatlah kita akan mati, maka ingatlah untuk hidup'.
Semoga kita gak pernah lupa untuk hidup untuk diri sendiri, dan kapanpun kita harus duduk bareng kematian, semoga kita udah memahami apakah kita benar-benar sudah hidup untuk diri sendiri.
Jangan keras-keras sama diri sendiri ya? Jaga kesehatan jiwa dan raga selagi mereka masih bersama.
Salah satu pelajaran berharga yang gue sadari di tahun 2025.
Mau segila apapun grinding and hustling, hasil luar biasa yg didapatkan di usia muda dengan mengorbankan pribadi terhadap isolasi sosial untuk pengkultusan fokus gak akan pernah bisa mengkompensasi waktu kita di masa tua.
Spend so many time with people around you. Your family, your friends, your loved one.
Sendiri itu niscaya, self-isolation is an option.
... Jebakan psikologis karena masalah struktural yang dipahami sebagai kegagalan personal.
theconversation.com/banyak-o…
andpho retweeted
JANGAN UMBAR KESEDIHAN DI MEDSOS
Imam Syafii berkata bahwa keagungan seseorang bisa dinilai dari 3 hal:
1. Menyembunyikan kefakiran sampai orang² mengira bahwa kamu orang kaya.
2. Menyembunyikan marah sampai orang² mengira kalau kamu ridha.
3. Menyembunyikan kesengsaraan sampai orang² mengira kamu selalu diberi nikmat oleh Allah.
Intinya, jangan suka umbar kesengsaraan kita. Terutama di medsos.
andpho retweeted
The safest way to travel is by plane. Do you know why?
Because they crash.
A few months ago, I learned a concept called Black Box Thinking which is a system that defines how entire industries respond to failure.
In aviation, when a plane crashes, they don't just look for who to blame.
They find a device called a Black Box, retrieve the data, and then ask what went wrong with the system.
And there is a reason for this.
To explain this, there is a famous story of a crash involving an Asian airline years ago.
When investigators listened to the recording from the black box, they found the engine didn't just fail on its own, the junior pilot actually noticed a mistake.
But because of a cultural hierarchy in Asia that demanded absolute respect for elders, he didn't question his senior pilot.
Instead, he hinted and spoke softly and the plane crashed.
That tragedy changed aviation safety forever.
It moved the focus from "Who made the mistake?" to "Why did the system allow this mistake?"
As we stand on the 29th of December, looking back at 2025, I want you to adopt this strategy of Black Box Thinking.
Most of us look at our failures this year and feel shame.
We hide the crash, and blame the economy, government, or something that does not exist.
But Black Box thinking demands a harder question: "How did I contribute to this problem?"
Did I stay silent when I should have spoken up?
Did I rely on motivation instead of a system?
Did I ignore the data because of my ego?
Don't bury your failures of 2025.
Open the box and analyze it.
Because that is the only way to fly safer in 2026.
andpho retweeted
advice ke sesama laki-laki:
upgrade skill, upgrade referensi, upgrade networking dan pertemanan, kurang2in nongkrong kalau tidak berfaedah, kurang2in gibah tidak produktif.
dulu saya fikir mindset itu cuma akal-akalan motivator aja karna kok dibahas mulu, tapi sekarang saya paham mindset itu penting sekali.
apa yg kita tonton, apa yg kita baca dan dengan siapa kita bergaul mempengaruhi cara pandang kita dalam hidup.
bahkan 1 kejadian yg sama bisa mendapatkan respon yg berbeda2.
saya selalu berusaha untuk berpikir bagaimana suatu kejadian bisa membuat saya bisa upgrade dan terus tumbuh.
buat temen2 yg masih berjuang apapun pekerjaannya, smg Allah mudahkan, lancarkan rezekinya, sehat2an keluarganya, dikuatkan pundaknya.
dunia itu kejam dan tidak adil. jadi yuk kita semangat :')
This Post is from a suspended account. Learn more
andpho retweeted
Pengangguran Massal 😥
Yoshua Bengio, salah satu bapak pendiri kecerdasan buatan (AI) modern dan penerima penghargaan Turing, mengeluarkan peringatan keras. Bahwa hampir semua pekerjaan manusia akan lenyap karena AI. Bukan lagi soal “mungkin” atau “jauh di masa depan”, tapi hanya tinggal menunggu waktu.
Menurutnya, pekerjaan kantoran seperti administrasi, penulisan laporan, analisis data, hingga coding akan menjadi yang pertama hilang karena AI sudah mampu melakukannya lebih cepat dan murah.
Bahkan anak muda Generasi Z yang baru lulus kuliah saat ini sedang kesulitan mencari pekerjaan entry-level karena banyak perusahaan sudah menggantinya dengan software AI.
Banyak orang berpikir pekerjaan manual atau fisik seperti tukang ledeng, tukang listrik, atau montir akan aman lebih lama. Namun Bengio menegaskan bahwa itu hanya penundaan sementara. Robot-robot di pabrik dan gudang semakin canggih, mengumpulkan data besar-besaran yang membuat AI belajar melakukan tugas fisik dengan sangat presisi.
Pada akhirnya, bahkan pekerjaan yang butuh tangan manusia pun bisa digantikan sepenuhnya. Ini berbeda dari revolusi industri sebelumnya, di mana mesin menghapus pekerjaan lama tapi menciptakan pekerjaan baru, kali ini, AI bisa melakukan hampir segala yang manusia lakukan, bahkan lebih baik.
Peringatan Bengio ini seperti alarm darurat bagi kita semua. Dia sendiri menyesal tidak menyadari risiko ini lebih awal dan kini aktif mendorong pengembangan AI yang aman.
Masyarakat dan pemerintah perlu segera mempersiapkan solusi, seperti pelatihan ulang tenaga kerja, pendapatan dasar universal, atau aturan ketat terhadap perusahaan teknologi. Jika tidak, kita bisa menghadapi pengangguran massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Intinya, masa depan di mana manusia tidak lagi perlu bekerja sudah di depan mata. Pertanyaannya, apakah kita siap menyambutnya dengan bijak?
fortune.com/2025/12/19/yoshu…




















