Ali retweeted
Massive protests in France against the high cost of living and the deterioration of public services.
VIP yang mau war tiket Bigbang besok hati-hati dengan domain scam Bigbangjakarta.com, tampilan website sangat mirip dengan website resmi.
Domain war yang asli BIGBANGINJAKARTA.COM (ada "in" nya), please bantu sebarkan karena ini mirip banget. @PKEnt_ID @SoundRhythm
Roscik ini enak banget, bumbunya meresap harganya murah.
Kenapa bisa murah? karena 1 grup sama Hisana, cost ayam pasti bisa diteken karena mass order.
kan
📢 OFFICIAL ANNOUNCEMENT
Due to unforeseen local circumstances, CLOSE YOUR EYES 1ST TOUR [BEYOND YOUR EYES] IN SURABAYA cannot proceed as scheduled.
We sincerely apologize to all CLOSERs who have been waiting for the Surabaya show.
Surabaya ticket holders may choose to:
✔️ Request a full ticket refund: bit.ly/cyesby_ticket_refund_… , or
✔️ Transfer to the Jakarta show on 30 August 2026 and receive 1 FREE Silver ticket: bit.ly/cyesby_switch_to_jaka…
Please check the official announcement for complete details and submission deadlines.
#CloseYourEyes #BeyondYourEyes #CYEinIndonesia #MaryhouseMedia #CLOSERs
Bantu jawab supaya bisa kasih insight lain
Pernah ada kondisi tiket dituker bukan oleh pihak jastip / buyer, akhirnya terjadi tuduh-tuduhan jastip gk ngerasa nuker, buyer gak ngerasa nuker.
Setelah ditelusuri barcode di e voucher bocor, jadi ada orang lain yg tuker dan pegang tiketnya.
alasan jastip ngasih proof semua di blur tuh apa sih?? srius dah nanya. soalnya kan buyer jastip sejak sebelum ticketing udah bayar, jadi bukan nya udah hak buyer tuh tiket? kalaupun karena atas nama jastip paling kan tinggal blur aja NIK+nama nya? kalau semua semua di blurr bahkan presale/membership nya aja di blur, mana wm seabrek. tujuannya apa? apa yg di takutin, takut buyer scam kah? tapi udh bayar😭😭😭🚶♀️
Ali retweeted
🚨 Eks Jampidsus Febrie Adriansyah tidak memenuhi panggilan Kejagung sebagai saksi dalam penyidikan dugaan TPPU.
Kejagung menyebut Febrie beralasan sakit. Penyidik pun menjadwalkan pemanggilan ulang pada Jumat (24/7).
Setuju sama pernyataan ini, waktu agritech boom analisa awal wih keren ya bisa bebasin petani dari tengkulak
pas analisa lebih dalam lagi, platform agritech = tengkulak pake teknologi.
Jadi gua punya cerita soal perusahaan Tanihub, gua saat awal masuk kerja disuruh ngebedah startup ini. Dari awal ngeliat thesis bisnisnya, secara logika berfikir gua langsung nolak. Narasi "Disrupsi Agritech" emang seksi banget buat pitching, tapi fundamental lapangannya HALU. Gua jelasin pemikiran gua ya saat itu
Gini sudut pandang gua waktu itu soal kenapa model bisnis ini emang bom waktu dari awal:
1. Halu nerapin prinsip Scale ala US di tanah gurem.
Kesalahan fatal Pertama: maksa nerapin playbook agrikultur ala Amerika (main kuantitas dan skala) ke Indonesia. Ini absurd secara geografis. Kalau lu buka data BPS, mayoritas petani kita itu jatuhnya "petani gurem" dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektar.
Dengan size lahan sekecil itu, model bisnis ngumpulin hasil panen untuk menuhin tonase itu kayak gali lobang mati konyol, karena harga panen bakal dinilai secara borongan oleh pasar. Lahan sempit mestinya main di quality dan highnyield crop (kayak teori pertanian intensif di Jepang), bukan genjot kuantitas.
2. P2P Lending ke sektor subsisten = Nyiapin tali tambang di pohon beringin.
Terus masuklah TaniFund nawarin P2P lending. "Pinjaman tanpa agunan buat petani" ini di atas kertas mulia "yang bahkan rentenir aja gak akan sebodoh itu" tapi secara risk pricing ngeri. Logika finansial dasar "tanpa agunan = high risk = suku bunga tinggi".
Petani dengan lahan <0,5 ha itu taraf hidupnya rata-rata "bisa makan dari sisa panen aja alhamdulillah". Mereka gak ada buffer finansial. Sekali cuaca jelek, kena hama, atau harga pasar anjlok, otomatis gagal bayar. Gimana ceritanya lu ngasih kredit komersial bunga tinggi ke sektor subsisten yang 100% terekspos risiko alam? Wajar kalau NPL (kredit macet) mereka akhirnya tembus di atas 60%.
3. Arogansi "Bypass Tengkulak"
Ini yang paling bikin gua mikir, lu pasti hidup enak ya dari lahir? Gak pernah ngeliat pasar kayak apa (apalagi pasar induk), berangkat sekolah udah ada makanan di meja tanpa mikirin bahan bakunya beli di mana.
Ada arogansi dari tech bros yang nganggep tengkulak itu murni lintah darat yang harus dibasmi. Padahal di ekosistem desa, tengkulak itu "entitas multifungsi". Mereka bukan cuma perantara. Mereka itu agregator logistik, tukang sortir kualitas panen yang campur aduk, pemberi kasbon darurat, dan yang paling krusial: Risk Bearer (Penanggung Risiko). Tengkulak berani nebas panen karena jam terbang mereka udah puluhan tahun baca cuaca dan harga. Terus lu, dengan modal pernah kerja pakai baju rapih, mau masuk ke industri ini?
4. Unit Economics yang berdarah-darah.
Coba hitung pakai logika supply chain sederhana. Produk segar (terutama sayur hijau) itu tingkat kebusukan gila. Umur simpannya cuma 1-3 hari, bahkan kalau cuaca panas banget, cuma beberapa jam udah layu sampai kuning.
Waktu TaniHub nekat menggusur tengkulak, SEMUA biaya shrinkage (susut/busuk), biaya sortir, dan logistik itu pindah murni ke neraca keuangan TaniHub. Margin kotor jualan sayur itu super tipis! Gimana logikanya margin setipis itu disuruh nanggung biaya operasional cold chain, sewa gudang raksasa, diskon bakar uang, plus gaji engineer dan manajemen super elit? Unit economicsnya udah negatif dari sejak awal gua narik proyeksi secara logika berfikir
Kesimpulan:
Ekosistem pertanian tradisional kita (dengan segala tengkulaknya) itu udah bertahan puluhan tahun bukan karena mereka jahat, tapi karena equilibrium harganya udah "sesuai dengan tingkat risiko" di lapangan.
Niat mulia menyejahterakan petani itu bagus, tapi kalau cuma modal narasi jualan mimpi tanpa paham unit economics dan sosiologi desa, Ujungnya ya cuma bakar duit investor. Di dunia bisnis, hukum gravitasi cashflow nggak bisa dilawan pakai slide deck yang bagus dan perguruan tinggi elit.
(MAAF YA KALAU MENYINGGUNG, MURNI OPINI PRIBADI)
Main di market fee murah emang challenging wkwk, gak salah juga bakal ada a trid a trid.
Terus kaum minim literasi nganggap trid kyk gini scam, karena kaum minim literasi mayoritas langsung retweet/like tanpa paham konteks.
This quoted post is unavailable.
Nasib ASN karir puluhan tahun bisa dijahatin sama politikus, inget karma, pak.
























