Translationese: sebutlah ini sebagai "bawaan bayi" dari model-model LLM/AI frontier. Mesin-mesin itu akan selalu aneh ketika menulis prosa sastrawi Indonesia. Nuansanya janggal, lebay, bertaburan frasa dan kata puitis yang nggak pas di kalimat.
Deepseek harness, memang terbukti berbeda. Wajar jika menyita perhatian, dan kini sudah 16,4 k fork di github. Kerja panjang berjam-jam, dijalankan lancar, dengan dispatch puluhan subagents.
Tapi risikonya tetap besar: kian rumit dan kompleks tugas yang dibebankan, makin boroslah konsumsi tokens-nya. Sama saja dengan harness lain: codex atau claude-code.
Ini bagus!
happyhues.co/palettes/13
Orang mulai pakai Ai untuk menghalau kesepian. Riset MIT & Harvard mengungkap hubungan manusia-AI di Redit: MyBoyfriendIsAI! Yang berbagi visual agar mirip seperti hubungan antarmanusia, ada 19,85%. Yang sengaja kencan dengan mesin, sebanyak 17%.
arxiv.org/abs/2509.11391
Tempo menggunakan istilah "Akal Imitasi" untuk menerjemahkan Artifial Intelligence. Frasa yang bagus, dan lebih cocok ketimbang "Kecerdasan Buatan".
Makin terbukti: kesenjangan perolehan informasi itu sedemikian lebar. Boleh jadi, masih banyak lagi "boomer dan generasi X berkuasa" yang hidup dalam gelembungnya sendiri. Asyik dengan urusan sendiri, yang dianggapnya sebagai urusan publik.
LLM/Ai dan halusinasi itu satu paket. Keniscayaan, akibat -- antara lain --proses pelatihan yang mengarahkan mesin untuk selalu menebak. Maka output-nya adalah tebakan termungkin, bukan benar atau salah a la manusia. Ini pula yang membuatnya sukar mengatakan, "Aku tidak tahu".
Just wait. The relic boomers and the Gen X ‘experts’—stuck in the past, pretending to know tech they can’t grasp—will soon turn AI into their scapegoat for Indonesia’s unrest. Watch them rant in broken tech speak, mistaking noise for knowledge.
Bahasa Indonesia is no longer the people’s tongue: it’s a dictionary of euphemisms: khilaf for killing, clarification for denial, penyerbuan repackaged as ‘security,’ & 'mengamankan' used to mean arresting and silencing. Vocabularies engineered to wrap lies in soft words.
Sikap jelas UII Yogyakarta!
Pernyataan sikap Universitas Islam Indonesia
Selengkapnya: uii.ac.id/kita-semua-adalah-…
#ImUII
#KampusUII
#UIIYogyakarta
#UniversitasIslamIndonesia
The playbooks from ’65, ’74, and ’98 are back on the table. They already have the script—it’s the Boomer’s playbook. The twist is, the cast has changed.
Lumayan. Untuk pemecahan teka-teki bernuansa lokal, yang idealnya diucapkan, bukan ditulis, karena perlu intonasi suara yang pas, GPT 5 lumayan cerdas menjawabnya. Tempo hari, satu-satunya yang mampu menjawab ini hanya Opus 4.







