Pinned Tweet
Pernah baca,
“Selesai menolong orang, lupakanlah. Agar hatimu tidak sibuk menagih.”
It hit me hard.
Pria yang tepat tak membuatmu sibuk menerjemahkan isyarat. Ia tak menunggu kamu memberi kode atau meminta berkali-kali. Sebab, baginya, ketulusan bukan sekadar janji, melainkan keberanian untuk datang dan membuktikan.
Peringatan kepada para penguasa, bahwa air yang tenang bisa membuat perahu berlayar, tetapi aliran yang deras dan arus yang marah juga bisa menenggelamkan perahu sebesar apapun.
Buku tak pernah berbahaya bagi bangsa. Yang berbahaya adalah penguasa yang takut rakyatnya berpikir, bertanya, dan berani membuka mata.
Karena, pikiran yang merdeka adalah musuh terbesar bagi mereka yang ingin terus berkuasa dalam kebodohan.
Ada luka yang tak pernah menemukan telinga untuk bercerita, ada rindu yang tak tahu harus pulang ke mana.
Maka, kutitipkan semuanya pada tulisan. Bukan agar dunia mengerti isi hatiku, melainkan agar aku tak terus-menerus tenggelam dalam sunyi.
Jangan bersedih, hatimu boleh lelah, matamu boleh basah, dan langkahmu boleh melemah.
Sebab, di saat dunia terasa begitu jauh memelukmu, Allah selalu dekat, mendengar bahkan doa yang tak sanggup kau ucapkan.
Tenanglah, kamu tidak pernah benar-benar sendiri.
Ada yang mencintai buku bukan karena ingin terlihat berilmu, tetapi karena menemukan dunia yang tak selalu bisa ia temukan dalam kehidupan nyata.
Sebab, buku bukan sekadar kumpulan kata. Ia menyimpan pemikiran, membuka cakrawala, dan mengajarkan kita melihat dunia lebih luas.
"BUKU ADALAH BENDA YANG MEMATIKAN"
Bukan karena ia menghabisi nyawa, melainkan karena ia mampu membunuh kebodohan, meruntuhkan kesombongan, dan menghancurkan pikiran yang selama ini dikurung oleh ketidaktahuan.
YUK MEMBACA!
Jangan terlalu angkuh saat di atas, sebab setiap orang punya giliran untuk jatuh. Tetap membumi, jangan lupa diri. Baik-baik jadi manusia, ya.
Jangan mengaku mencintai alam jika suaramu hilang saat hutan dibakar dan kehidupan direnggut.
Sebab, cinta bukan sekadar mengagumi keindahan, melainkan keberanian untuk membela ketika sesuatu yang kita cintai sedang dihancurkan.
Hutan dibakar demi keserakahan, rakyat dipaksa menghirup penderitaan.
Namun, perempuan tak dilahirkan untuk sekadar diam menyaksikan kehancuran.
Jika kekuasaan tuli terhadap jeritan alam, biarlah suara perempuan menjadi gemuruh perlawanan.
Negara ini tidak kekurangan orang yang berani bersuara, tetapi terlalu sering kekuasaan lupa cara mendengarkan.
Rakyat tidak butuh pemerintah yang pandai membungkam kritik, melainkan pemimpin yang berani berbenah.
suara rakyat bukan ancaman!
Aura orang yang pribadinya pure baik itu gak bisa ditiru apalagi dipalsukan
Energy dan vibes-nya terasa banget.
Satu pembelajaran yang nampaknya butuh seumur hidup untuk dilatih adalah "berhenti terkejut dengan sifat manusia."
Kita belajar dari Surah Al-Ikhlas, bahwa mencintai Allah tak selalu membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan-Nya.
Cukup hati yang mengenal, iman yang percaya, dan jiwa yang tetap pulang kepada-Nya, bahkan ketika seluruh dunia perlahan meninggalkan kita.
Makin dewasa makin paham kalo bentuk kasih sayang paling basic itu
“nyempetin waktu” dan “selalu didenger”.
Di dalam rezeki yang kita punya, ada hak makhluk lain di dalamnya. Mungkin rezeki kita belum berlimpah, tapi semoga selalu cukup untuk berbagi.
Ada rindu yang tak perlu menemukan jalan pulang.
Cukup dititipkan pada tulisan, agar hati punya tempat untuk mengenang tanpa harus kembali kehilangan.
Jingga, warna favoritku.
Dulu kau mengajarkan hangatnya senja, kini kau menyimpan luka di antara hutan yang terbakar.
Semoga suatu hari, jingga kembali menjadi warna keindahan, bukan kehilangan. 🥀











