Halfspace Football (@halfspaceindo) header
Halfspace Football (@halfspaceindo) profile picture

Neutral football | Opinion, data, news & entertainment about football

Twitter HQ
Joined June 2026
Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)Photo by Halfspace Football (@halfspaceindo)
Halfspace Football retweeted
Andi Supriyatin, 41 tahun, pedagang singkong dari Pekalongan, ditangkap polisi di Jakarta pada Rabu (28/10) pagi. Sebelum ditangkap, Andi mengayuh sepedanya dari Pekalongan ke Jakarta utk berpartisipasi dlm aksi 28 Oktober. Sampai sekarang, Andi belum dibebaskan. Dia dituding melakukan penghasutan untuk melawan penguasa. Sementara itu, institusi dan pejabat yg melakukan pembohongan publik, melakukan manipulasi persepsi, melanggar UU Keterbukaan Informasi Publik, serta memperkeruh konflik sosial dgn menyewa mahasiswa abal2, selesai dgn cuma minta maaf. regional.kompas.com/read/202…
112
5,632
79
8,652
129,176
Halfspace Football retweeted
"saya ingin ucapkan terimakasih, atas kokopan." AJG KOKOPAN, SEKALI LAGI KOKOPAN😭😭😭😭
2,661
17,046
6,274
81,857
2,965,654
Halfspace Football retweeted
SALAH SATU PELAKU PEMB*N**AN ANAK DOWN SYNDROME ALM ZULKARNAIN
ORANGTUA PELAKU YANG BUN* ANAK DISABILITAS SURABAYA YG MULUTNYA DI MASUKIN SABUN COLEK ITU MALAH NUDUH BAPAK KORBAN YANG BUN*H - nama anak yang diduga terlibat adalah krisna dan vano - orang tua salah satu anak datang takziah dengan membawa beras dan uang rp100 ribu, sementara orang tua yang satunya hanya membawa beras. pemberian tersebut ditolak oleh orang tua korban dan kemudian diberikan kepada orang lain - saat korban dalam kondisi kritis, tidak ada tetangga yang membantu. justru driver ojol dan satu tetangga di sebelah rumah yang mengawal korban - keluarga korban sudah meminta rekaman cctv, tetapi beberapa pihak justru memberikan berbagai alasan sementara itu, setelah olah tkp, polrestabes disebut mengarah pada krisna sebagai pihak yang paling dicurigai karena diduga paling banyak melakukan kontak fisik terhadap korban dinsos juga dinilai sangat lambat dalam menangani kasus ini
228
7,338
175
20,770
238,465
Kenapa Pemerintah Indonesia menghentikan bantuan dari Jepang untuk memadamkan kebakaran hutan di kalimantan? Setelah saya check ke website Department Pertahanan Jepang ternyata, Bantuan dari Jepang yang baru setengah jalan di paksa dihentikan atas alasan, Indonesia sanggup untuk memadamkan sisanya. Apakah benar sanggup memadamkan sendiri? atau takut terbongkar kedok dibalik kebakaran hutan? atau bagaimana? Negara Singapore dan Malaysia sudah marah besar nih #kebakaran #kalimanatan
🤖 Made with AI
291
10,114
671
20,294
631,707
Halfspace Football retweeted
Lihat kami di Borneo 😭 hutan kami di bakar 💔
88
20,193
199
52,840
441,887
Halfspace Football retweeted
Keknya gk ada orang yg lebih menderita drpd masyarakat KALIMANTAN. • Produksi batu bara terbeesar tpi sering mati lampu. • Kilang minyak terbesar seindo tapi antri BBM sampe 5KM. • Produksi gas alam tapi harga gas melon dieceran 50k/biji. • Belom lagi Gubernurnya sinting semua. Dan setelah semua kezoliman tersebut, sekarang orang² kalimantan disuruh menghirup udara yg sangat "BERKUALITAS".☺️ Please gk semua orang kalimantan perokok aktif🙏, kalupun ada ini asap udh too much memek. Buruan ada tindakan kek. @prabowo @gibran_tweet
55
1,105
21
1,758
109,699
Halfspace Football retweeted
Pemain diaspora ini padahal sudah berjasa untuk Indonesia.. Coba yang masih punya mindset timnas sekarang timnas Belanda disuruh mampir ke markas Kopassus. Pasti kaget lihat foto komandan pertama dan pendiri cikal bakal Kopassus Mayor Mochammad Idjon Djanbi. Nama asli: Rokus Bernardus Visser Asal: Belanda/Kanada, Lahir di Boskoop Belanda, pengalaman tempur di militer Belanda pada saat Perang Dunia 2 (Ikut Operasi Market Garden). Masuk KNIL sebagai perwira di unit KST (Korps Pasukan Khusus) Ini malah Belanda totok..nggak ada darah Indonesianya
MEREKA SEMUA PUNYA DARAH INDONESIA‼️ mindset pemain lokal/diaspora keknya mulai sekarang mesti dihilangin, karena mereka semua adalah pemain indonesia dan mereka bangga pake baju dengan lambang garuda di dada 😭
25
130
7
800
47,935
Halfspace Football retweeted
Saya bantuin si Abangnya, mereka bukan selingkuh bukan sengaja pake jersey cople. Dateng juga ga bareng. Semoga video ini sampe ke istrinya 🤣
jersey biru oligarki, belum apa-apa udah hampir bikin hubungan org rusak. 😭😭
329
2,597
248
31,952
2,192,930
Halfspace Football retweeted
Ibu Sud, pencipta lagu “Tanah Airku” yang dibawakan Anggun di Final FIFA ASEAN Cup 2026, punya ayah angkat seorang indo Belanda bernama Dr JF Kramer. Ayah angkat ini yang bikin Saridjah Niung, nama asli Ibu Sud, memperdalam seni. Kramer berayahkan Belanda dan beribu Jawa. Dia akrab dengan orang tua Saridjah, sehingga melihat talenta pada diri putri mereka. Saridjah disekolahkan di Hoogere Kweekschool (HKS), Bandung. Setelah tamat, Saridjah menjadi guru di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Saridjah menciptakan lagu “Tanah Airku” pada 1927, terinspirasi dari orang-orang yang menimba ilmu di negara lain dan rindu pada tanah airnya. Saridjah mulai dikenal sebagai Ibu Sud sejak menikah dengan Bintang Sudibyo di Semarang pada November 1925. Selama hidup, beliau telah menciptakan lebih dari 400 lagu. Beberapa yang populer antara lain Berkibarlah Benderaku, Bendera Merah Putih, Desaku, Kupu-kupu yang Lucu, Naik Delman, Naik-naik ke Puncak Gunung, hingga Nenek Moyangku.
Banyak yg nyinyir Anggun nyanyi “Tanah Airku” karena dia WN Perancis. Mungkin sebelum nyinyir, coba pahami dulu kenapa Anggun akhirnya memilih menjadi warga negara Perancis. Anggun pindah ke Perancis bukan karena dia “meninggalkan Indonesia” atau malu menjadi orang Indonesia. Dia pindah ke sana sejak 1994 untuk membangun karier internasional. Dalam perjalanannya, paspor Indonesia justru menjadi salah satu kendala buat mobilitasnya sebagai penyanyi internasional. Dia pernah bercerita soal sulitnya mendapatkan visa untuk beberapa negara, bahkan ada pekerjaan dan agenda promosi yang bisa terganggu karena persoalan paspor. Pada akhirnya, kewarganegaraan Perancis membuat aktivitas profesionalnya jauh lebih mudah. Dan yg sering dilupakan: Anggun sendiri mengatakan keputusan itu diambil dengan berat hati. Dia bahkan pernah berharap Indonesia suatu hari mengizinkan kewarganegaraan ganda. Jadi, kewarganegaraan dan rasa memiliki terhadap tanah air itu dua hal yg berbeda. Dia memang WN Perancis. Tapi dia lahir, besar dan memulai kariernya di Indonesia. Lagu “Tanah Airku” yg dia nyanyikan bukan otomatis kehilangan makna hanya karena paspornya sekarang Perancis. Kalau mau mengukur nasionalisme seseorang cuma dari paspor, berarti kita sedang menyederhanakan sesuatu yg jauh lebih kompleks. Dan lucunya, ketika seorang Indonesia membawa nama Indonesia ke panggung dunia selama puluhan tahun, yg dipermasalahkan malah paspornya. Buatku, dia tetap Idola dan orang Indonesia, bahkan beliau sejak tahun 90an selalu promosikan Indonesia. Kalo kamu jadi Anggun, emang bakal mau punya presiden kayak Pak
26
153
10
509
25,848
Halfspace Football retweeted
Qué placer y qué alegría haber formado parte de tu historia desde el primer día hermano! Nos hiciste sonreír y disfrutar tanto del fútbol!!! Tu nombre está en la historia de tu país, de todo el mundo... Solo nosotros sabemos la alegría que sentimos al cumplir nuestro sueño de infancia, representar a toda nuestra nación y ser campeones del mundo!!!! Lo diste todo por tu selección y por tu país... Te entiendo perfectamente y sé que todo lo relacionado con la familia nos hace replantearnos las cosas... Disfruta de la vida, hermano. Te deseo lo mejor, hoy y siempre
1,679
55,288
1,267
361,725
2,760,937
Halfspace Football retweeted
Banyak yg nyinyir Anggun nyanyi “Tanah Airku” karena dia WN Perancis. Mungkin sebelum nyinyir, coba pahami dulu kenapa Anggun akhirnya memilih menjadi warga negara Perancis. Anggun pindah ke Perancis bukan karena dia “meninggalkan Indonesia” atau malu menjadi orang Indonesia. Dia pindah ke sana sejak 1994 untuk membangun karier internasional. Dalam perjalanannya, paspor Indonesia justru menjadi salah satu kendala buat mobilitasnya sebagai penyanyi internasional. Dia pernah bercerita soal sulitnya mendapatkan visa untuk beberapa negara, bahkan ada pekerjaan dan agenda promosi yang bisa terganggu karena persoalan paspor. Pada akhirnya, kewarganegaraan Perancis membuat aktivitas profesionalnya jauh lebih mudah. Dan yg sering dilupakan: Anggun sendiri mengatakan keputusan itu diambil dengan berat hati. Dia bahkan pernah berharap Indonesia suatu hari mengizinkan kewarganegaraan ganda. Jadi, kewarganegaraan dan rasa memiliki terhadap tanah air itu dua hal yg berbeda. Dia memang WN Perancis. Tapi dia lahir, besar dan memulai kariernya di Indonesia. Lagu “Tanah Airku” yg dia nyanyikan bukan otomatis kehilangan makna hanya karena paspornya sekarang Perancis. Kalau mau mengukur nasionalisme seseorang cuma dari paspor, berarti kita sedang menyederhanakan sesuatu yg jauh lebih kompleks. Dan lucunya, ketika seorang Indonesia membawa nama Indonesia ke panggung dunia selama puluhan tahun, yg dipermasalahkan malah paspornya. Buatku, dia tetap Idola dan orang Indonesia, bahkan beliau sejak tahun 90an selalu promosikan Indonesia. Kalo kamu jadi Anggun, emang bakal mau punya presiden kayak Pak
130
537
63
2,890
557,998
Halfspace Football retweeted
Jika orang Thailand akhirnya ikut-ikutan orang Malaysia & Singapura yang komplain sama tampilan fisik & tampak para pemain Indonesia kiwari, ya mereka perlu juga belajar paham soal konsep dasar Indonesia sebagaimana dicetuskan Trio Indische Partij 113 tahun lalu. 🙂
55
281
32
1,960
131,128
Halfspace Football retweeted
After Indonesia lost in ASEAN Hyundai Cup 2026, I saw many tweets from rival countries on the TL, many of which are derogatory To celebrate Indonesia’s ascension as the true KING of ASEAN tonight, I will be bringing all those tweets back for all to see A thread, enjoy 🍿
31
215
32
854
96,276
Halfspace Football retweeted
Akhirnya Pak Prabowo paham 😁
115
234
120
1,856
155,061
Halfspace Football retweeted
Soal tambahan waktu 2 menit jadi 7 menit, itu sebenernya bukan hal yang harus dipermasalahkan karena itu jelas kesalahan wasit. Gue yakin angka 2 itu salah karena itu angka bekas pergantian terakhir sebelumnya, yaitu pemain Bangladesh nomor 2 masuk. Warna angkanya pun masih hijau karena emang belum diubah, sementara tambahan waktu itu menggunakan warna merah. Jadi itu antara wasitnya salah mengangkat papan (biasanya ada lebih dari 1 papan) atau angkanya emang belum diubah.
18
37
5
194
9,832
Halfspace Football retweeted
Stoppage time berubah dari 90+2' jadi → 90+7'. Coach John Herdman mengatakan kalau wasit ke-4 sempat mengakui adanya kesalahan. John Herdman dalam konferensi pers mengatakan: "Saat tambahan waktu ditunjukkan +2 menit, saya rasa semua orang di stadion paham kalau itu sebuah kesalahan. Karena sempat ada beberapa kali VAR check. Lalu saat bertanya ke wasit ke-4: 'apakah ini sebuah kesalahan?' dia mengatakan 'yes'." Video cek di next tweet. "Namun di momen itu, mereka (Bangladesh) sempat cetak gol. Mereka cetak gol karena para pemain kami kebingungan. Kami sedang tak fokus saat itu. Saya sempat berpikir itu jadi momen sulit bagi kami. Melihat respon para pemain kami, responnya agak aneh."
Netizen Malaysia protes kenapa extra time nya nambah. Lah justru aneh kalau hanya +2 menit, cek VAR aja setidaknya ada tiga kali di babak kedua. Itupun belum termasuk hitung laga terhenti karena gol, pelanggaran, perawatan cedera, pergantian pemain, dan sempat ada keributan di menit akhir. So pengadil tu memang dah betul la tambah masa extra time tu. Betul betul betul
23
142
9
1,003
83,836
Halfspace Football retweeted
OPEN LETTER Dear @FIFAcom @fifamedia @theafcdotcom @TrollFootball @nocontextfooty and all Football Journalist in the World Malaysia vs Singapore 6-0 is dabbling in illicit schemes and reeking of gambling Why? Malaysia scored six goals against Singapore—equaling their biggest-ever victory in the history after 1976. Why is this notable? Because Malaysia needed as many goals as possible to overcome Indonesia's goal difference and qualify for the final, and the two nations are close neighbors with shared cultural roots that were once part of the same country. In terms of FIFA rankings, Malaysia sits at No. 137, while Singapore is at No. 146, It clearly makes no sense to lose that easily. In fact, looking at the last five meetings prior to this, Malaysia lost three times, drew once, and won only once. For the another reason, in the match, Statistically, Malaysia did not completely dominate Singapore—whether in terms of shots on goal, possession, or the creation of scoring opportunities. How, then, did Malaysia manage to score six goals with such statistics? It makes little sense that they scored only four goals against Bangladesh yet six against Singapore there are reasonable grounds to suspect, Singapore intentionally lost and that Malaysia resorted to means violating the spirit of fair play to secure the victory. We hope this is thoroughly investigated.
210
461
68
1,402
180,789
Halfspace Football retweeted
Coba lu hitungin goal menit si Mitch terus ditambah 4 goal nya zen Menit 11 + 20 + 37 + 42 = 110 Goal = 4 Jadi menit ditambah goal 110 + 4 =114 KONSPIRASI !!!
HT: Indonesia 6-1 Bangladesh Mudah banget lawannya. Komentarnya?
36
35
8
388
37,661
Halfspace Football retweeted
SURAT TERBUKA Tentang Transparansi, Keadilan, dan Kepercayaan dalam Program Original Content Rewards (OCR) di X Bandung, 27 September 2026 Kepada: Yth. Mr. @elonmusk , CEO X Corp Tembusan: Tim @XCreators dan pimpinan produk monetisasi X Dengan hormat, Saya menulis surat ini sebagai pemilik akun X, pengguna Premium, dan bagian dari komunitas kreator Indonesia yang mengikuti peralihan program monetisasi X dari Creator Revenue Sharing ke Original Content Rewards (OCR). Surat ini dimaksudkan sebagai masukan terbuka: menghargai arah kebijakan yang diambil, sekaligus menunjuk titik-titik yang saat ini merusak kepercayaan terhadap prosesnya. 1. Apresiasi: program kreator adalah peluang, sekaligus ujian Langkah X membuka ruang penghidupan bagi kreator lewat program konten adalah keputusan yang tepat secara arah. Platform ini tidak hanya menjadi ruang percakapan, tetapi juga ruang kerja. Bagi banyak pemilik akun di Indonesia, OCR bisa menjadi peluang untuk menata ulang cara membuat konten lebih orisinal, lebih bertanggung jawab, dan lebih berorientasi pada nilai, bukan semata keramaian. Namun setiap program insentif juga adalah ujian tata kelola. Peluang hanya akan dijawab dengan kerja yang sehat jika aturannya terasa adil, ukurannya bisa dicek, dan prosesnya bisa dipercaya. Di titik itulah program ini, sayangnya, masih goyah. 2. Kepercayaan retak karena prosesnya terasa tertutup Sayangnya, peralihan ke OCR tidak disertai perangkat yang membuat orang merasa percaya pada prosesnya. Sejumlah ketentuan berjalan secara tertutup. Dampaknya merugikan sebagian besar akun terverifikasi, terutama akun yang belum eligible OCR padahal sebelumnya sudah eligible di program monetisasi X yang lama. Ketika syarat berubah, definisi “tayangan yang dihitung” menyempit, dan angka kemajuan tidak ditampilkan secara jujur, yang tersisa bukan semangat berkompetisi, melainkan perasaan sedang bermain di lapangan yang garisnya hanya diketahui wasit. 3. Skema 90 Days Rollover: substitusi bagi akun lama, akumulasi bagi akun baru Salah satu masalah yang paling banyak dikeluhkan akun yang belum eligible adalah sistem 90 Days Rollover untuk mencapai 500.000 home impressions dari pengguna terverifikasi. Bagi akun yang sudah aktif lebih dari 90 hari di X, dan terlebih yang sudah eligible di program sebelumnya, mengejar angka 500.000 itu terasa seperti skema yang tidak sehat. Setiap hari, ada satu hari hasil aktivitas dibelakang yang hilang dari jendela perhitungan saat tiba di hari ke-91. Jika hari yang hilang tidak bisa disubstitusi oleh angka hari terbaru, syarat eligible tidak bertambah. Ia justru berkurang. Kerja kemarin bisa menguap bukan karena kontennya buruk, melainkan karena kalender bergeser. Bandingkan dengan akun yang baru masuk ke program ini dan memulai dari nol. Bagi mereka, skema 90 hari belum menjadi mesin substitusi. Ia masih akumulasi. Belum ada hari yang hilang sampai jendela 90 hari terisi penuh. Dua akun mengerjakan target yang sama, tetapi aturan mainnya tidak sama. Yang satu menambal kebocoran. Yang lain menabung. Inilah yang membuat skema itu terasa tidak adil dan berat. Dalam praktiknya, ambang 500.000 home impressions terverifikasi dalam jendela bergulir 90 hari, dengan tayangan pada balasan yang tidak dihitung, bukanlah “sepersepuluh” dari syarat lama 5 juta tayangan organik. Denominatornya berubah. Yang dihitung lebih ketat, yang tidak terlihat lebih banyak, dan yang gugur setiap hari tidak bisa diawasi. Bagi banyak kreator, ini terasa lebih dekat dengan perjudian ketimbang dengan metrik kerja. 4. Analitik yang tidak bisa dijadikan rujukan Lebih parah lagi, dan inilah alasan kesan “tertutup” itu mengeras: akun yang sedang mengejar eligible maupun yang sudah eligible tidak pernah tahu posisi home impressions terverifikasi mereka secara akurat. Data analitik yang hari ini ditampilkan X nyaris tidak bisa dijadikan patokan untuk syarat OCR. Angka tayangan umum, engagement, dan grafik batang yang ada di menu analitik mengukur hal yang berbeda dari angka yang menentukan lolos atau tidaknya seseorang. Kreator diminta menembak sasaran yang tidak dipasang di papan skor. Bandingkan dengan Facebook, misalnya. Akun yang sudah eligible di sana setidaknya dapat melihat estimasi pendapatan dari hari ke hari. Ada angka yang bisa dicek, dikoreksi, dan dijadikan dasar keputusan kerja. Di X, kreator membayar langganan Premium, memenuhi syarat pengikut terverifikasi, lalu berjalan tanpa dashboard untuk metrik yang justru menentukan nasib monetisasinya. Karena itu, dengan hormat saya mengajukan lima hal kepada Mr. Elon Musk dan tim X: 1. Ganti 90 Days Rollover dengan sistem akumulasi Hilangkan skema jendela bergulir yang menghapus angka hari lama. Ganti dengan akumulasi murni menuju target 500.000. Entah bisa tercapai dalam 60 hari, 90 hari, atau lebih, yang dihitung adalah capaian, bukan sisa stok setelah satu hari terpotong. Tidak ada angka yang hilang. Tidak ada keharusan substitusi. Semua diakumulasikan. Ini adil bagi akun lama maupun akun baru. 2. Jika rollover tetap dipakai, turunkan ambangnya Apabila X tetap memegang skema 90 Days Rollover, ambang 500.000 terlalu berat bagi kreator yang audiensnya tidak seluruhnya Premium, yang jangkauannya banyak tumbuh dari percakapan, atau yang berada di pasar di luar Amerika Serikat. Usulan saya: turunkan menjadi 250.000 sampai 300.000 home impressions terverifikasi dalam jendela yang sama. Syarat tetap ada. Pintunya tidak dikunci dari dalam. 3. Tampilkan data home impressions terverifikasi secara utuh Munculkan metrik home impressions terverifikasi di analitik, dengan bentuk yang setara dengan data batang tayangan, impresi, dan engagement yang sudah ada hari ini. Bukan sekadar status “belum eligible” atau “eligible”. Yang dibutuhkan adalah angka harian, tren, sumber tayangan, dan sisa jarak ke ambang. Tanpa itu, syarat OCR adalah teka-teki, bukan standar. 4. Tampilkan estimasi pendapatan harian Setelah akun eligible, tampilkan estimasi pendapatan dari hari ke hari. Kreator berhak mengetahui, paling tidak secara perkiraan, nilai kerja yang sudah diserahkan kepada platform. Transparansi pendapatan bukan kemewahan. Ia adalah syarat minimum agar program monetisasi tidak terasa seperti kotak hitam. 5. Definisikan ulang “konten orisinal” secara adil dan bertingkat Tentukan dengan jelas, adil, dan dapat dicek, apa yang termasuk kategori konten orisinal. Konten yang dipikirkan, diteliti, disunting, dan memberi konteks seharusnya memiliki koefisien nilai yang berbeda dari konten yang hanya “yapping”: ramai, cepat, viral, tetapi dangkal. Orisinalitas tidak boleh hanya diukur dari keramaian. Jika X sungguh ingin menghargai karya, maka karya yang menanggung biaya berpikir harus dihargai lebih tinggi daripada konten yang hanya menanggung biaya volume. 6.Konten tidak boleh diukur hanya dari status verified dan non-verified Konten yang diproduksi kreator seharusnya tidak disegregasi, dibatasi, dan diukur hanya dari status akun verified dan non-verified. Dalam sistem OCR hari ini, nilai sebuah karya seolah baru dianggap ada jika ia dilihat oleh akun berlangganan. Tayangan dari pengguna yang tidak berbayar hampir tidak mendapat tempat: tidak masuk syarat eligible, dan tidak masuk hitungan yang menentukan apakah kerja itu “cukup”. Ini keliru secara prinsip. Yang orisinal atau tidak orisinal adalah kontennya, bukan status langganan orang yang menontonnya. Percakapan publik di X tidak hanya dihuni akun Premium. Sebagian besar ruang itu justru diisi pengguna biasa. Jika OCR hanya mengakui home impressions dari akun terverifikasi, maka platform sedang membagi dua jenis penonton: yang “berharga” dan yang “tidak terhitung”. Padahal keduanya sama-sama manusia yang membaca, mempertimbangkan, dan membentuk jangkauan sebuah karya. Akibatnya bukan hanya angka yang timpang. Arah kerja kreator ikut terdistorsi. Orang didorong mengejar audiens berbayar, bukan mengejar ketepatan isi. Konten yang sehat bagi publik luas bisa kalah dari konten yang hanya beredar di kalangan akun centang. Segregasi semacam ini membuat OCR tampak sebagai program untuk sebagian pengguna, bukan program untuk karya. Karena itu, dalam sistem OCR, tayangan dari akun verified dan non-verified seharusnya mendapat tempat yang sama. Keduanya dihitung. Keduanya terlihat. Kalau X ingin membedakan bobot, bedakan dari kualitas konten dan kedalaman kerja, bukan dari apakah penontonnya membayar langganan. Status akun boleh menjadi data. Ia tidak boleh menjadi pagar yang menentukan apakah sebuah karya dianggap ada. Penutup Saya tidak menulis ini untuk menolak program kreator. Saya menulis ini agar program itu layak dipercaya. X sudah meminta kreator berpindah dari model lama ke model baru, mendaftar ulang, dan menyesuaikan cara kerja. Permintaan itu hanya adil jika X juga menyesuaikan cara mengukur, cara menampilkan, dan cara menjelaskan. Kepercayaan tidak dibangun oleh slogan “original content”. Ia dibangun oleh angka yang bisa dilihat, aturan yang berlaku sama, dan imbalan yang bisa dipahami. Jika ketiga hal itu hadir, OCR akan menjadi peluang. Jika tidak, ia akan tetap terasa sebagai tantangan yang tidak perlu: tertutup, timpang, dan melelahkan bagi orang yang justru ingin bekerja dengan jujur di platform ini. Saya berharap Mr. Elon Musk dan tim X meninjau kelima usulan ini bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai investasi pada integritas program yang baru saja diluncurkan. Semakin awal diperbaiki, semakin besar peluang OCR menjadi standar yang dihormati, bukan skema yang diragukan. Hormat saya, @giIangmahesa Seorang kreator X dari Indonesia · Pengguna X Premium · Akun terverifikasi
44
64
16
115
25,201