Pinned Tweet
Verifying myself: I am hibagus on Keybase.io. OJ8ilpETw3zP5M5f7eldpkw8GJu8gG9m4QSA / keybase.io/hibagus/sigs/OJ8i…
Bagus Hanindhito retweeted
respect sama orang yang mental healthnya berantakan tapi tetap hidup semestinya, ga milih ngerusak diri, ga salah pergaulan, selalu self improvement dan tetap perjuangin masa depan, kamu hebat! cuma orang pilihan yang mampu seperti itu. believe your life will change. trust me
Sementara itu, negara tetangga tanpa perlu aturan IMEI dan TKDN:
Ini tuh perlindungan pasar lokal dari gempuran hape black market yang masuk gak dari jalur resmi.
Kenapa?
Karena hape BM gak bayar pajak dan gak muterin uang di indonesia.
Selain bayar pajak, hape resmi ada unsur TKDN 35%
Artinya 35 dari total volume nilai jualan hape di indonesia tuh muter di indonesia jadi nafkah buat orang yang kerja di industri tersebut.
Nah karena beli hape dari luar negri gak ada unsur TKDN (dan gak bayar pajak), makanya harus ada kompensasi yang dibayarkan sama pembeli hape atas hilangnya perputaran uang di indonesia.
Jadi menurut keyakinan saya, bayar regis imei itu bukan sesuatu yang buruk.
Apalagi hp mewah tuh kebutuhan tersier dan opsi yang tersedia di pasar lokal juga berlimpah segala jenis merk & spek.
Bagus Hanindhito retweeted
Selama papa hidup, kita di rumah suka heran kenapa beliau sering ngidupin air, sering buang sampah, bensin mobil selalu diisi walaupun baru berkurang 2 kotak, dan banyak hal lain yang menurut kita aneh.
Tapi pas beliau pergi ninggalin kita, baru kejawab semua. Bahkan di hari H beliau pergi, semuanya langsung kejawab.
Waktu beliau pergi, rumah jadi sering kehabisan air pas kita mau mandi atau sekadar cuci tangan karena air tower kosong. Pantes aja si papa dulu ngidupin air terus, ternyata air di rumah tuh boros kalau rame orang. Dulu orang rumah selalu ngomong, "Ngapain sih, Pa, idupin air terus? Air loh banyak."
Sebelum dia tidur, bak mandi dipenuhin, bahkan bak yang di tempat cuci itu dipenuhin semua. Karena papa nggak ada, semuanya sering kosong.
Waktu hari H dia meninggal, rumah rame. Tapi nggak ada yang peduli sampah habis cuci piring. Kalau malam tuh langsung dibuang ke kotak sampah gede di depan rumah. Pas paginya, tembok dapur semut semua.
Oh, ternyata rumah tuh mudah semutan loh. Pantesan si papa sebelum tidur, pokoknya kotak sampah dalam rumah nggak pernah penuh, selalu langsung dibuang. Alasannya itu....
Seminggu papa pergi, mobil tuh beberapa kali dipake, tapi nggak sadar ternyata bensin udah mau habis. Begitu mau beli bensin, ternyata di Lampung antre banget. Beli bensin pun. Haduhhhhhh, semuanya punya alasan ternyata.
Waktu papa di rumah sakit, pagi-pagi gue udah siram mobil pake air karena abu vulkanik, nyiram kembang, sama bersihin siring karena ada sampah. Capek banget rasanya. Oh, ternyata kegiatan papa tuh pagi-pagi banyak banget, capek banget. Tapi dia nggak pernah ngeluh.
Tiap gue pulang dari Jakarta, kalau pulang naik pesawat, si papa udah jalan dari rumah ke bandara buat jemput waktu gue baru boarding di Jakarta. Jadi pas gue di pesawat, dia udah sampai. Nggak mau gue nunggu.
Begitupun kalau gue naik Damri malam dari Jakarta sampai Lampung sekitar jam 3–4 subuh, dia udah bangun jam 2, nungguin kabar gue udah turun kapal apa belum. Biar gue nggak sendirian pas turun bis subuh-subuh.
Bahkan saat dia sakit, dengan keadaan antara sadar nggak sadar, dia nanya, "Pulang naik apa?"
Gue jawab, "Naik Damri."
Terus kata dia, "Siapa yang jemput?"
Kata gue, "Naik Grab subuh tadi."
Lalu dia jawab, "Jangan naik Grab, papa aja yang jemput."
Padahal dia duduk pun udah nggak bisa, tapi masih mikirin gue.
Ada cerita lagi, gue tiap tanggal 1 selalu bayar listrik rumah. Dan doi itu tiap gue bayar listrik minta struknya. Gue kira dia kepo gue bayar berapa, dan gue ngerasa yaudahlah, sih, gue yang bayar, kenapa kepo segala? Tinggal pake listrik.
Ternyata tiap bulan, kata orang rumah, dia catet meteran pemakaiannya untuk ngebandingin pemakaian boros bulan ini atau nggak.
Maafin paaaa. 😭
Ada nggak hal kecil dari orang tua kalian yang baru kalian pahami artinya setelah mereka nggak ada?
Memory: hold my bottleneck
卧槽,3090要可能要涨价了!!
因为老黄的刀法被人破解了
有人给3090解了个锁,同样限制在 360W,PyTorch 测试从 75 TFLOPS 跑到了 135 TFLOPS,提升约 80%!
你以为是超频,把功耗往上拉?
但他改的是显卡里控制运算速度的寄存器,这些寄存器平时有权限保护,正常改不了
他利用 GPU 启动固件的漏洞,赶在 NVIDIA 驱动加载之前拿到写入权限,把相关运算改成全速,再交给原版驱动使用
解开的主要是 FP16/BF16 输入、FP32 累加这类 AI 运算的速度限制 但测试算力多了 80%!!
4090 也有分支项目做到了:同类运算的指令吞吐,从约 165 TFLOPS 提升到 331 TFLOPS,接近翻倍
项目地址,附上👇
github.com/Zagitta/gpu-unloc…
My childhood was with Ace Combat 3
26 years later: Ace Combat 8 :)
Sorry, my GPU, drop that LLM weights and render my game for the weekend :)
Bagus Hanindhito retweeted
Hanya mengingatkan, sekarang bahkan Badan Bahasa aja dibungkam oleh rezim.
Di level tata bahasa pun Prabowo antikritik.
SS unggahan Badan Bahasa ini bahkan udah hilang sejak kemarin sore.
yang ngasih uang berhak memilih; mau dikasih cash atau mau dikasih sesuai kebutuhan. Kalau aku, lebih memilih sesuai kebutuhan, butuh X langsung dibayarin; butuh Y langsung dibelikan. Lebih terkontrol saja, dan lebih tepat sasaran.
Kalau saudaranya butuh ya minta separately.
Ada orang gajinya sekitar Rp30 juta sebulan. Setiap pulang ke rumah orang tua. Dia hampir nggak pernah kasih uang tunai. Saudaranya pernah nyeletuk: “Minimal kasih Mama uang pegangan kek.”
Dia jawab:
“Gue memang jarang kasih cash.” Terus ibunya malah membela dia.
Ibunya bilang:
“Dia nggak kasih Mama uang.”
“Tapi kalau Mama butuh apa, tinggal bilang.”
Awalnya kedengarannya sama aja. Ternyata sistemnya memang beda.
Ibunya pernah butuh kacamata baru. Dia bayar.
HP rusak. Dia beliin. Kontrol dokter. Dia urus.
Ada peralatan rumah rusak. Dia yang pesan.
Alasannya agak unik. Dulu dia rutin transfer uang bulanan. Tapi ibunya hampir nggak pernah pakai buat dirinya sendiri. Uangnya malah disimpan atau kadang diberikan ke saudara yang lain.
Dia akhirnya bilang:
“Kalau buat Mama, bilang kebutuhannya apa.”
Bukan karena mau mengontrol uang orang tua.
Dia cuma pengen uang yang memang diniatkan buat bikin hidup ibunya lebih nyaman. Benar-benar dipakai untuk itu.
Tapi saudaranya tetap nggak setuju.
Katanya:
“Kasih uang cash itu juga bentuk kepercayaan.”
Kalau sudah diberikan ke orang tua, mau dipakai apa seharusnya bukan urusan anak lagi. Dan menurut saya argumen itu juga masuk.
Jadi kalau punya rezeki lebih buat orang tua:
lebih baik kasih cash rutin dan biarkan mereka bebas pakai?
Atau bayar langsung kebutuhan mereka supaya uangnya benar-benar kepakai?
Mantap memang Mas Asri...
I am a proud friend and labmate :)
"If the why is strong enough, the how will follow!" 👏
Thanks Pak Gita @GWirjawan
sudah memberikan obrolan daging
dengan Mochamad Asri, Lead Architect di NVidia.
youtu.be/w9FGJ4x_VI0?is=erSy…
Bagus Hanindhito retweeted
KALAU SEORANG COWO UDAH MULAI MASUK PHASE INI:
• Rutin olahraga, bukan cuma buat looks tapi karena mulai care sama health.
• Mulai lebih mindful soal makanan.
• Lebih banyak diem daripada ikut semua conversation yang ga perlu.
• Udah nyaman pergi sendiri dan gak selalu butuh company.
• Mulai serius mikirin future dan life goals.
• Uang gak cuma buat di-spend, tapi mulai disusun, ditabung, dan diinvestasikan.
Bagus Hanindhito retweeted
Dulu, sebelum nikah, aku punya pacar. Kami putus baik-baik.
Nggak ada orang ketiga. Nggak ada drama. Dia cuma bilang satu kalimat.
"Kita orang yang tepat, tapi waktunya belum."
Aku angguk. Aku percaya. Aku pulang dengan dada sesak.
Bertahun-tahun aku bawa kalimat itu. Setiap ada yang nanya kenapa putus,
aku ulang kalimat yang sama. "Kita tepat, cuma waktunya belum."
Kedengarannya dewasa. Kedengarannya damai.
Kayak kami korban takdir, bukan pelaku pilihan. Tapi makin ke sini, kalimat itu makin aneh.
Karena kalau aku perhatiin, "waktu yang belum" itu nggak pernah datang pas dia lagi sendiri.
Dia muncul pas ada hal lain yang lebih dia perjuangkan. Karier. Keluarga. Kebebasan.
Dan aku, nomor sekian. Aku nggak mau percaya itu.
Tapi lambat laun, aku mulai sadar.
Aku lihat dia 3 tahun kemudian. Dari foto teman.
Dia nikah. Bahagia.
Aku lihat tanggalnya. Setahun setelah kami putus.
Aku mikir, "Waktunya belum? Tapi setahun kemudian waktunya pas?" Aku nggak bisa jawab.
Dadaku sesak lagi. Tapi kali ini beda.
Aku nggak bilang dia salah milih. Semua orang berhak milih hidupnya.
Tapi aku baru paham. "Right person, wrong time" itu bukan penjelasan.
Itu pembungkus. Biar keputusan ninggalin seseorang kedengarannya kayak takdir.
Bukan pilihan.
Dan itu yang paling nyakitin.
Malam itu aku cerita ke istriku. Bukan karena aku masih sayang sama mantan.
Tapi karena aku baru paham. Aku bilang, "Dulu aku percaya banget sama kalimat itu."
Istriku diem. Lalu dia jawab. "Kalau kamu masih percaya sampai sekarang, kita nggak akan pernah nikah, Mas."
Aku kaget.
Istriku lanjut.
"Dulu kita pacaran, kamu nggak punya uang. Aku nggak punya uang. Waktu itu susah." "Tapi kita nggak pernah bilang 'waktunya belum.'" "Kita bilang 'kita cari jalan.'" "Dan kita jalan sampai sekarang."
Aku nelen ludah. Dia bener.
Aku baru sadar. Orang yang beneran nganggap kita tepat,
nggak nunggu waktu yang benar. Dia bikin waktunya.
Dia nggak nyari musim.
Dia nyari cara. Dan kalau dia pergi sambil bilang "waktunya belum,"
sebenarnya dia lagi bilang, "aku milih yang lain."
Sekarang aku udah nikah.
Punya anak. Dan aku bersyukur istriku bukan tipe yang nunggu waktu.
Karena kalau dia nunggu waktu yang pas, kami nggak akan pernah mulai.
Kami akan terus nunggu. Dan nunggu itu nggak pernah berakhir.
Coba jujur di komentar. Pernah nggak kamu dikasih alasan "waktunya belum"?
Atau kamu sendiri yang ngasih alasan itu ke orang lain? Sekarang setelah baca ini,
apa kamu masih percaya? Atau kamu mulai sadar kalau itu cuma pembungkus?
Menurut kalian, “right person, wrong time” itu beneran ada, atau cuma cara halus untuk bilang bahwa seseorang memang nggak memilih kita?

























