Igna (@ignasiusryan) header
Igna (@ignasiusryan) profile picture
Indonesia
Joined July 2009
Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)Photo by Igna (@ignasiusryan)
AI blurs the line between roles. The better you are using AI at building and selling something (plus getting everyone on board), the more likely you are to succeed.
Everyone is becoming a part-time engineer and marketer
706
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara? Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu. Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun. Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai. Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain. Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi. Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook. Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa: 1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN. 2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal. 3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu. 4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan. 5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian. Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam. Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka. Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam. Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan. Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja. Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam. Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek. Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan. JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun. Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara. Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan. Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga. Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum. Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi. Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun... Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit. Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus. Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini? Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara? Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian. Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi. Jakarta, 16 April 2026 Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
821
13,871
1,249
20,139
2,976,197
Pake Claude Code buat ngulik data lari di Strava. Jadi bisa buat visualize heatmap lari setahun terakhir ala-ala Github begini. Kalo ada yang mau bikin juga, bisa cek lariviz.xyz. Gratis.
1
1
856
IMO, salah satu barang paling worth-it buat punya satu aja tapi sekalian beli yang bagus dan reliable walopun agak mahal: koper cabin size.
3
8,792
Sama kayak orang bilang “the best camera is the one you have with you”, menurut gue tools buat nyatet pengeluaran yang paling bagus ya apa aja yang bisa bikin lo rutin dan disiplin nyatet. Mau pake app boleh, mau pake Excel/Sheets bisa, mau dicatet jg gpp. Sisanya gimmick.
You’re unable to view this Post because this account owner limits who can view their Posts. Learn more
20
68
16,719
Perdana nyobain Whoosh @KeretaCepatID. Proud! Halim ke Padalarang cuma 30 menit. 🇮🇩🇮🇩🇮🇩
1
14
6,272
Wkwk makasih lho.
Replying to @worksfess
ignasius ryan, kata gue ini orang bakal masuk surga
12
8
118
15,613
Boleh dicoba nih.
Dr. Andrew Huberman (@hubermanlab) on How to Instantly Bring Your Stress Level Down 👇
5
5,610
Yang baru awal-awal karir, fokus aja grow skill lo dan naikin active income. Investasi buat dapetin passive income memang penting dan lo harus bangun habitnya, tapi return terbesar buat diri lo adalah investasi di skill dan karir lo.
2
39
129
7,401
Sebagai konteks: kalo gaji lo per bulan 5 juta, setahun paling ga lo dapet 60 juta di luar THR. Tau berapa aset investasi yang lo butuhin buat nyamain gaji lo setahun? Asumsi return 4% bersih, lo butuh aset 1.5 M!
1
1
8
3,652
Makanya gue selalu bilang, di awal-awal karir ga usah terlalu pusing return investasi lo berapa. Fokus aja bangun kebiasaan finansial yang baik dan disiplin. Prioritas lo harusnya ngegedein active income lo. Good luck!
16
3,200
Prove you can do hard things When a teenager asks why they need to learn calculus, what should you say? You know they will never use it in adulthood, outside of certain career choices. You could say, “It’ll help you get into college,” but then they’re left wondering why college cares if you know calculus. And once they’re in college, maybe you could say, “To get a good job,” but why would a potential hirer care how you did in multivariate calculus if your job doesn’t require any knowledge of calculus? But I recently realized there is a very good reason to take Calculus. It’s to prove you can do hard things. The ability to do hard things is perhaps the most useful ability you can foster in yourself or your children. And proof that you are someone who can do them is one of the most useful assets you can have on your life resume. Our self-image is composed of historical evidence of our abilities. The more hard things you push yourself to do, the more competent you will see yourself to be. If you can run marathons or throw double your body weight over your head, the sleep deprivation from a newborn is only a mild irritant. If you can excel at organic chemistry or econometrics, onboarding for a new finance job will be a breeze. But if we avoid hard things, anything mildly challenging will seem insurmountable. We’ll cry into TikTok over an errant period at the end of a text message. We’ll see ourselves as incapable of learning new skills, taking on new careers, and escaping bad situations. The proof you can do hard things is one of the most powerful gifts you can give yourself. My goal with our kids is to avoid lying to them as much as possible. I won’t tell them that calculus is super important or even that grades are super important. The truth is, they aren’t, so long as you have other plans. Calculus is a great way to prove you can do hard things if you have no other proof to show. But if you’re learning programming and building apps in your free time, or winning soccer championships, or writing a novel, then you are doing hard things. Probably harder than Calculus. This is also why there’s so much survivorship bias and bad advice in the “C students hire A students” trope. Most C students are not doing other hard things instead of school. They’re just goofing off, so they end up working for the A student. But some C students are getting C’s because they’re obsessed with other projects. Hard projects. And that obsession with doing hard things lets them blow past their Excellent Sheep peers over time. So if you have a C student who’s obsessed with something hard, you probably don’t have to worry. If they’re getting high and watching TikTok, well… I don’t particularly care what grades my kids get once they start school. But I do care that they consistently prove to themselves they can do hard things. If Calculus is how they want to do it, fine, but there are many, many more options. And if you’re not someone who knows they can do hard things, find a way to prove it to yourself. Build a habit, learn a skill, create something, whatever it is that turns your default stance on challenges from “that seems hard” to “I can figure it out.” Create proof you can do hard things.
159
917
181
3,688
836,332
Keluarin uang buat beli: ❌ Barang (things) ✅ Pengalaman (experiences)
11
33
3,462
Gue gak bisa ngelakuin ABC ❌ Gue BELUM bisa ngelakuin ABC ✅ Sering-sering ngomong gini. Nanti lama-lama jadi bikin lo punya growth mindset kalo semua hal bisa kok dipelajari. Lo bisa make effort untuk belajar sesuatu yang baru.
1
101
5
258
10,941
dengan sering menulis, clarity of thoughts ini terlatih banget loh
Kalo lo ngerasa ngomong lo berantakan, coba refleksi apakah lo udah clear dalam berpikir apa yang mau lo sampaikan. Clarity of speech is clarity of thoughts. Kuncinya: fokus sama topik, pikirin semua kemungkinan, dan yang paling penting: set prioritas.
3
7
3,181
Kalo lo ngerasa ngomong lo berantakan, coba refleksi apakah lo udah clear dalam berpikir apa yang mau lo sampaikan. Clarity of speech is clarity of thoughts. Kuncinya: fokus sama topik, pikirin semua kemungkinan, dan yang paling penting: set prioritas.
66
5,000
242
16,906
624,089
Detailnya ada di caption IG gue:
5
115
4
740
46,080
Semakin bagus kerjaan lo, semakin banyak kerjaan yang dikasih ke lo. Hehehe. Hehe. He.
coba kasih tau cotizen tentang bitter truth dunia kerja yang tanpa filter menurut pengalaman kalian.
3
13
1
45
5,343
Tips Karir: sering-sering ngobrol sama divisi lain. ✅ Ngobrol aja mereka ngerjain apa. Prioritas divisinya apa. Tanya ada ga yang bisa lo bantu. Lama-lama lo bisa connecting the dots. Tau perusahaan arahnya ke mana. Tau apa opportunity yang mungkin ada di depan.
1
7
44
3,546