Pinned Tweet
Cerita jurnalistik saya linktr.ee/katondio
Ada #giveaway buku arsenal karya bang @katondio di threads tuh
threads.com/share/BAbebcIweY…
silahkan meluncur
Update ⚠️
Due to the delays caused by the poor visibility affecting the medical helicopter, the decision has been taken to cancel the Moto3 race at the Red Bull Grand Prix of Australia.
Further updates regarding the provisional schedule for the MotoGP Grand Prix will be provided at 14:00 local time, as previously stated.
Katondio B. Wedya retweeted
Replying to @Windekind_Budi
Asli mbah, beberapa pembalap akhirnya mulai buka suara dan gerah setelah rencana Sprint Qualifying di 2027 diumumin.
Bayangin aje, 44 balapan, 44 kualifikasi. Dan mereka ini balapan pake motor, yang sedikit aja salah bisa langsung cedera, rontok anak orang.
Katondio B. Wedya retweeted
ARSENAL SIAP KASIH PAHAM NOTTINGHAM!
Kali ini, The Gunners akan hadapi Forest di Emirates. Wajib nih kita dukung terus!
Buat yang gak bisa nonton di Emirates, Lesgowww kita rapatkan barisan dan Nobar
Regis di sini: docs.google.com/forms/d/e/1F…
#TheGoonersWave #WeAreWave #Arsenal
Katondio B. Wedya retweeted
1. Semoga bangsa ini sadar telah membabat habis hutan, yang mengakibatkan 30.000 jenis pohon lenyap di Indonesia.
Katondio B. Wedya retweeted
Tips dari WNI buat manajemen City ni.
Bisa kali daripada capek2 banding🤣🤣
Katondio B. Wedya retweeted
Sean Sharaf a Palestinian UFC Fighter who was a +1000 Underdog knocked out Gable Steveson in 10 seconds and said “ALHAMDULILLAH” and proceeded to recite Surah Al-Fatiha for his late brother in front of Las Angeles.
He is a legend and will forever be remembered in UFC history🏆
This media is unavailable
Katondio B. Wedya retweeted
ARSENAL BAKAL KEMBALI UNJUK LAGA!
Kali ini, tantangan ada di markas Brighton. Ayo kita support terus tim kesayangan kita demi konsisten raih kemenangan.
Lesgowww kita rapatkan barisan dan Nobar
Regis di sini Goonz: docs.google.com/forms/d/e/1F…
#TheGoonersWave #WeAreWave #Arsenal
Katondio B. Wedya retweeted
[OOT] Kabut asap makin pekat di Kalimantan pagi ini. Penerbangan sudah dialihkan. Anak sekolah diminta belajar dari rumah. Tolong jangan berhenti bersuara.
(Foto tanpa filter, jika dilihat dengan mata, asap lebih pekat dari gambar ini)
[OOT] Kalimantan
Jumlah penduduk Kalimantan sebanyak 17,95 juta jiwa atau tak sampai 7 persen populasi negara. Namun pulau terbesar ketiga di dunia ini menghasilkan produk domestik regional bruto (PDRB) Rp1.919 triliun pada 2025.
Dengan demikian, PDRB per kapita Pulau Kalimantan adalah Rp106 juta atau 27 persen di atas rata-rata nasional (PDB/GDP per kapita Indonesia Rp83 juta). Itulah nilai total barang dan jasa yang diproduksi selama satu tahun dibagi jumlah penduduk.
PDRB per kapita di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara malahan menyentuh Rp208 juta atau USD12.000. Angka ini nyaris mendekati GDP per kapita Malaysia dan Republik Rakyat Tiongkok.
Tapi apakah kondisi daerah semakmur dan sesejahtera Malaysia dan RRT?
Jangan bermimpi, Ferguso!
Masalahnya sebagian besar PDRB itu bersumber dari eksploitasi sumber daya alam. Seperti pulau-pulau penghasil SDA yang lain, hasil eksploitasi itu tidak seluruhnya kembali ke Kalimantan.
Lebih parah lagi, tahun ini dana bagi hasil SDA untuk daerah dipangkas atas nama efisiensi. Padahal alam daerah-lah yang menanggung akibatnya.
Pulau ini memang sudah dieksploitasi sejak zaman Belanda (minyak bumi dan batu bara), Orde Baru (perkayuan), hingga sekarang (gas bumi, batu bara, dan perkebunan sawit). Puluhan tahun begitu, Kalimantan malah tertinggal.
Contoh sederhana; untuk bepergian antarkabupaten yang berdekatan saja bisa ditempuh enam hingga sepuluh jam. Tiada kereta api, tiada armada bus yang memadai.
Jalannya pun masih banyak yang belum mulus. Beberapa kecamatan tak memiliki akses darat sehingga harus mengandalkan jalur sungai. Itu baru dari transportasi, belum bicara layanan kesehatan dan pendidikan hingga kondisi masyarakat adat di pelosok pulau.
Hati akan kian teriris manakala melihat kemajuan Kalimantan di sisi jiran. Maka ketika segala ketertinggalan itu ditambah serangan kabut asap kebakaran, kekeringan, listrik kadang padam bergiliran, hingga antrean BBM, izinkanlah kami berteriak.
Maklumi saja teriakan ini. Karena hanya itu yang kami bisa sebelum suara ini parau dan sirna karena menghirup asap terlampau lama.
Foto hanya penambah pahit.





































