
Husband|Dad of 2 Girls|Kepala Balitbang @PDemokratJkt | Public Policy-Urban & Regional Economy|MPKP FEUI | - Twit Pribadi -
Depok, Jawa Barat
Joined October 2009
- Tweets19.6K
- Following3.4K
- Followers4K
- Likes15.6K
Kholil retweeted
Selamat untuk Club Bola Volly PAJA ONE,.Menjadi Juara 1.dalam Invitasi Bola Volly Antar CLub U19. Piala AHY CUP 2026...
Dan Terima Kasih.
Pa Ketum,Pa Sekjen, Pa Menteri, Babe Nara, Atas kehadirannya.
#AHYCUP2026
@AgusYudhoyono
@teukuriefky_1
@PDemokrat
@PDemokratjkt
Kholil retweeted
Ada satu penyesalan dari keluarga pasien stroke di IGD yang sering banget bikin aku ikut nyesek pas dengernya:
"Dok, tadi pagi badannya tiba-tiba lemas, kirain cuma kecapekan biasa. Terus disuruh tidur dulu aja..."
Atau, "Tadi udah dibawa ke tukang urut Dok, tapi malah makin parah, separuh badan ga bisa gerak."
Ternyata pas diperiksa di IGD, kondisinya udah lewat dari masa emas.
Tolong ya ges, di bagian saraf, kami punya pegangan erat: Time is Brain. Waktu adalah otak.
Pas pembuluh darah di otak mampet karena sumbatan, setiap detiknya ada jutaan sel otak yang mati kelaparan ga dapat oksigen. Makanya ada yang namanya Golden Period atau masa emas penanganan stroke, yaitu maksimal 4,5 jam sejak gejala pertama kali muncul.
Kenapa sih ngejar waktu di bawah 4,5 jam itu penting banget? Karena kalau pasien datang cepat, kami masih punya senjata buat menyelamatkan sel otak yang belum mati.
Ada obat khusus yang disuntikkan lewat infus untuk menghancurkan gumpalan darah yang nyumbat itu. Tindakan ini namanya Trombolisis. Ibarat saluran air yang mampet, obat ini tuh kaya cairan pembersih super kuat buat ngelancarin alirannya lagi.
Terus, gimana kalau gumpalan darah yang nyumbat ukurannya gede banget? Ada tindakan lanjutan namanya Trombektomi. Dokter bakal masukin semacam selang kecil dari pembuluh darah di paha, terus naik ke arah otak, buat "menangkap" dan menarik gumpalan darah itu keluar secara langsung.
Tapi ges, tindakan krusial kaya Trombolisis dan Trombektomi ini butuh fasilitas khusus seperti alat CT-Scan dan kesiapan tim medis, yang biasanya cuma ada di Rumah Sakit besar.
Jadi kalau ada saudara atau orang tua yang tiba-tiba ngalamin gejala kelemahan separuh badan, pelo, atau gejala stroke lainnya...
Tolong jangan buang waktu. Jangan tunggu "siapa tau nanti sore mendingan". Langsung bawa ke IGD Rumah Sakit besar, bukan Puskesmas atau Klinik
Ingat, argo 4,5 jam itu berjalannya cepet banget. Makin cepat sumbatan dibuka, peluang pasien selamat dari kecacatan permanen jauh lebih besar.
Boleh minta tolong di-bookmark atau dibagikan ya postingan ini. Siapa tau dari satu retweet teman-teman, ada nyawa dan masa depan seseorang yang bisa terselamatkan 🙏🏽
Kholil retweeted
Game on, Jakarta!
Saatnya tunjukin kalau semangat kompetisi, sportivitas, dan kebersamaan selalu jadi juara. 💙
Siapin tim terbaik lo dan ramaikan Invitasi Bola Voli Antar Club Jakarta – Piala AHY 2026.
#PialaAHY2026 #DemokratJakarta #VoliJakarta #lavaniforever
Mengundang kritik selalu terdengar baik.
Yg jauh lbh penting adalah apa yang terjadi setelah kritik itu diterima.
Apakah dipertimbangkan? atau justru dianggap gangguan?
Keterbukaan sebuah pemerintahan diukur dr kesediaannya mengoreksi keputusan yang salah
Sejarah berulang kali menunjukkan bhw sebuah pemerintahan mulai kehilangan arah ketika loyalitas lbh dihargai dr pd kompetensi, birokrasi membesar utk akomodasi, uang rakyat dikelola tanpa akuntabilitas yg memadai. Pdhl, amanah mengelola negara adlh menjaga kepercayaan rakyat
Setiap kebijakan & setiap rupiah yang dikelola pada akhirnya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat, dgn mengedepankan kepentingan publik, menempatkan orang yg tepat pada posisi yg tepat, serta memastikan setiap keputusan berpihak pada kepentingan rakyat
Program prioritas dengan anggaran jumbo yang dipersepsikan sebagai bancakan akan menggerus kepercayaan pasar. Saat kepercayaan turun, modal keluar, permintaan dolar naik, dan rupiah tertekan. Di pasar keuangan, persepsi sering kali lebih menentukan daripada tumpukan data rincian
MBG niatnya bagus. Namun 3 Hal perlu diubah:
1. Pilih penerima yang tepat. Utamakan yang stunting, dari keluarga miskin, di daerah terpencil.
2. Belanja dari petani & libatkan pedagang sekitar sekolah
3. Daerah yang pegang kendali. Pemda dan koperasi lokal yang urus dapurnya.
Kholil retweeted
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Kholil retweeted
Guys, ada satu era dalam sejarah Indonesia modern yang menurut gue paling sering disalahpahami baik oleh yang terlalu memujinya maupun yang terlalu meremehkannya.
Era Susilo Bambang Yudhoyono.
2004-2014.
Sepuluh tahun.
Dan kalau mau jujur tentang apa yang terjadi di era itu jawabannya tidak sederhana.
Tapi ada satu hal yang sulit dibantah:
Indonesia melewati dua krisis global di era itu dan tetap tumbuh positif.
Dua kali.
Tidak banyak negara yang bisa bilang itu.
Mulai dari konteksnya dulu:
SBY naik ke kekuasaan di 2004 ketika Indonesia belum benar-benar pulih dari trauma 1998.
Ekonomi memang mulai bergerak, tapi kepercayaan publik terhadap institusi masih rapuh.
Harga kebutuhan pokok fluktuatif.
Lapangan kerja terbatas.
Dan rakyat masih trauma dengan ingatan antrean panjang di depan bank yang hampir bangkrut.
Dan dalam kondisi seperti itu dua bulan setelah dilantik tsunami Aceh menghantam.
26 Desember 2004.
Ratusan ribu jiwa hilang.
Ujung barat Sumatera rata dengan tanah.
Dan seorang presiden baru yang belum genap 100 hari menjabat harus menghadapi bencana terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
Dan ini yang paling mencirikan gaya kepemimpinan SBY:
Dia tidak rapat di Jakarta.
Dia terbang ke Aceh.
Menyusuri reruntuhan.
Memegang tangan korban yang kehilangan segalanya.
Dan menahan air mata di depan kamera dunia.
Lalu dalam hitungan hari dia membentuk BRR, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias.
Membuka pintu selebar-lebarnya bagi bantuan internasional.
Lebih dari 50 negara datang.
Dan seluruh proses ditangani secara terbuka dan transparan.
Hasilnya: penanganan tsunami Aceh disebut oleh banyak lembaga internasional sebagai salah satu respons terbaik terhadap bencana kemanusiaan dalam sejarah.
Dan yang tidak pernah direncanakan siapapun:
dari reruntuhan Aceh, lahir perdamaian dengan GAM yang sudah berkonflik lebih dari 30 tahun.
Perjanjian Helsinki ditandatangani setahun setelah tsunami.
Bencana yang harusnya memperlemah pemerintahan baru justru menjadi momentum perdamaian bersejarah.
Dan ini kebijakan yang paling tidak populer tapi paling benar:
SBY tahu bahwa anggaran negara sedang digerus habis oleh subsidi energi.
Harga minyak dunia sedang tinggi.
Dan kalau tidak ada perubahan tidak akan ada uang untuk membangun sekolah, irigasi, jalan, atau rumah sakit.
Dia memilih langkah yang tidak populer:
mereformasi subsidi BBM.
Protes meledak.
Demonstrasi di mana-mana.
Tapi SBY tetap di jalurnya.
Dan uang yang dihemat dari reformasi subsidi dialihkan ke program-program yang lebih tepat sasaran.
Dan untuk memastikan keputusan-keputusan ini diambil dengan dasar yang kuat dia memanggil ekonom terbaik yang ada. Sri Mulyani. Boediono.
Ini bukan gaya populis yang mengandalkan tepuk tangan. Ini gaya teknokrat yang mengandalkan data.
Dan ini yang paling relevan dengan kondisi Indonesia sekarang:
Krisis keuangan global meledak dari Wall Street. Lehman Brothers bangkrut.
Pasar saham global anjlok.
Negara-negara maju kocar-kacir menyelamatkan perbankan mereka.
Semua orang mengira ini adalah 1998 jilid dua untuk Indonesia.
Yang terjadi:
Indonesia tetap tumbuh 4,6%.
Di saat banyak negara mengalami pertumbuhan negatif Indonesia tumbuh positif.
Untuk kedua kalinya dalam sepuluh tahun, Indonesia melewati krisis global tanpa jatuh.
Caranya:
stimulus fiskal yang langsung menyasar sektor produktif.
BLT untuk memastikan konsumsi masyarakat kecil tidak rontok.
Bank Indonesia di bawah Boediono menjaga kurs rupiah tanpa drama besar.
Cadangan devisa dijaga.
Suku bunga diatur agar tidak menyulitkan dunia usaha.
Dan semua itu dilakukan tanpa kegaduhan.
Tanpa pidato bombastis.
Tanpa menyalahkan pihak asing.
Tanpa mengubah definisi "stabil" agar kondisi buruk terlihat baik.
Dan ini yang paling sering dilupakan orang soal era SBY:
Dia adalah presiden yang menaikkan gaji guru secara signifikan untuk pertama kali dalam sejarah modern Indonesia.
Tahun 2004 gaji guru PNS sekitar Rp1 sampai Rp1,5 juta per bulan.
Dalam lima tahun pertama naik dua kali lipat.
Ditambah tunjangan sertifikasi yang nilainya setara satu kali gaji pokok.
Guru yang sebelumnya harus kerja sampingan sebagai petani atau penjual kelontong untuk bertahan hidup akhirnya bisa fokus penuh di ruang kelas. Bisa membeli rumah.
Bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Dan bukan hanya gaji.
Dana BOS diluncurkan dana langsung ke sekolah sehingga sekolah tidak lagi membebankan biaya operasional ke siswa. Ratusan ribu anak dari keluarga sederhana bisa tetap bersekolah karena program ini.
Jamkesmas diluncurkan layanan kesehatan gratis bagi keluarga miskin. Yang kemudian menjadi cikal bakal BPJS.
PNPM Mandiri dana langsung ke desa dengan masyarakat yang menentukan sendiri untuk apa dipakai. Bukan top-down dari Jakarta. Tapi bottom-up dari warga.
Ini bukan program populis yang dibuat untuk dipamerkan.
Ini program yang dirancang untuk benar-benar sampai ke yang membutuhkan.
Dan ini kontras yang paling tajam dengan kondisi sekarang:
Di era SBY — ketika krisis global melanda pemerintah jujur kepada rakyat.
Tidak ada pejabat yang menyebut media internasional "bego". Tidak ada yang mengatakan "orang desa tidak pakai dolar" sebagai respons terhadap pelemahan mata uang.
Tidak ada yang mengganti definisi "stabilitas" agar angka buruk terlihat baik.
Yang ada:
Sri Mulyani berdiri di depan forum G20 dan menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia apa adanya. Boediono mengelola kebijakan moneter dengan kalkulasi yang bisa diverifikasi.
Dan SBY menghadapi forum internasional dengan kepala tegak karena datanya mendukung klaimnya.
"Komunitas yang baik tidak dibangun dengan bombastis. Tapi dengan kepercayaan yang dibangun pelan-pelan dari konsistensi."
Dan ini kritik yang fair karena SBY bukan tanpa cela:
Reformasi birokrasi berjalan lambat.
Terlalu lambat.
Mesin pemerintahan terasa berat dan bergerak sangat lamban.
Beberapa keputusan penting tertunda terlalu lama karena SBY terlalu panjang pertimbangannya.
Reformasi hukum tidak secepat yang diharapkan. Dan beberapa orang di sekelilingnya tersandung kasus hukum menciptakan kesan bahwa dia terlalu lunak kepada lingkaran dalamnya.
Ini adalah kelemahan yang nyata. Bukan untuk dibela tapi untuk dipahami secara jujur.
Tapi ini yang paling tidak bisa dibantah:
Ketika SBY turun dari kursi presiden di 2014 Indonesia tidak sedang dalam kekacauan. Ekonominya tumbuh.
Konflik politik tidak meledak.
Rating utang negara meningkat dari BB- menjadi investment grade untuk pertama kali dalam sejarah artinya dunia keuangan internasional akhirnya mempercayai Indonesia sebagai tempat yang layak untuk investasi jangka panjang.
Indonesia masuk G20 dan duduk sejajar dengan negara-negara ekonomi terbesar dunia. Satu-satunya dari Asia Tenggara.
Benedikt Anderson ilmuwan terkenal dari Amerika — bertanya kepada mahasiswa Indonesia tahun 1999: siapa pahlawan nasional masa kini?
Mereka menjawab Iwan Fals.
Tapi kalau ditanya siapa pemimpin yang paling stabil dalam sejarah reformasi Indonesia banyak ekonom akan menjawab SBY.
Kholil retweeted
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Saya percaya Kementerian Pertahanan, TNI, dan seluruh pihak yang diberi amanah menjaga negeri ini paham betul bahwa kedaulatan bukan hal yang bisa ditawar.
Wilayah udara, laut, dan darat Indonesia adalah kehormatan bangsa. Setiap keputusan yang menyangkut akses pihak asing
harus benar-benar dihitung matang, dengan satu ukuran utama: kepentingan nasional.
Rakyat tentu mendukung kerja sama yang bermanfaat. Tapi rakyat juga berharap garis batas soal kedaulatan dijaga tegas. Karena tugas menjaga negeri ini bukan hanya soal diplomasi,
Kholil retweeted
Dari Singapura saya ikut mengamati gejolak pasar global, utamanya harga minyak, gas dan BBM. Meskipun harga energi masih sangat fluktuatif, tetapi dampak buruknya sudah dirasakan oleh semua negara. Termasuk Indonesia.
Banyak negara, termasuk yang ada di Asia, telah melakukan langkah-langkah nyata untuk menyelamatkan ekonominya. Caranya berbeda-beda, tetapi saya pandang masuk akal. Hari ini, 25 Maret 2026 saya juga menyimak kebijakan pemerintah Filipina dan Korea Selatan yang disampaikan oleh para presidennya.
Untuk Indonesia, kita tak perlu panik. Meskipun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tidak tepat.
Waktu memimpin Indonesia dulu saya mengalami krisis yang sama. Meroketnya harga minyak terjadi pada tahun 2004-2005, kemudian tahun 2008 dan yang terakhir tahun 2013. Harga minyak yang meroket sangat memberikan tekanan pada ekonomi kita. Fiskal dan defisit APBN melebar, inflasi atau stabilitas harga terguncang dan dampak terhadap kaum tak mampu sangat terasa. Meskipun pahit dan tidak mudah, kita pilih kombinasi kebijakan yaitu penambahan subsidi dan penaikan harga BBM. Pemerintah juga melakukan kampanye penghematan energi besar-besaran.
Ketika saya putuskan dan ambil langkah-langkah seperti itu, gelombang pro dan kontranya tinggi sekali. Parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Tapi, akhirnya, ekonomi kita selamat dan masyarakat tidak mampu dapat kita lindungi melalui program BLT.
Saya memantau pemerintahan Presiden Prabowo juga telah mempersiapkan kebijakan dan langkah-langkah yang diperlukan. Saya dukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi angka defisit anggaran. Untuk menyelamatkan APBN 2026 pada khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya, beberapa opsi dapat dipilih oleh pemerintah. Yang penting ekonomi kita selamat ~ termasuk terjaganya pertumbuhan (growth), terkelolanya inflasi (stabilitas harga) dan tercegahnya PHK besar-besaran (job security). Dan yang sangat penting adalah tetap terlindunginya saudara-saudara kita kaum tak mampu yang pasti hidup mereka makin sulit. *SBY*
Coba kalo liburnya setahun.
Kepala BGN: MBG Libur Selama Lebaran, Negara Hemat Rp 5 T news.detik.com/berita/d-8404…










