Mas Gandol retweeted
kalian pernah gak sih misal lagi jalan atau apa gitu, terus ada orang yang jalan di belakang atau deket kita, kadang ngerasa was was, parnoan aja (ini ditempat yg gak terlalu rame ya) padahal orangnya gak ngapa ngapain, tp suka parnoan sendiri padahal ada orang lain juga yg kadang ngeliatin kita, tp ya biasa aja, cuma dibeberapa orang kadang merasa was was😭
berasa kek mau diculik, padahal siapa yang mau nyulik anak bagong segede kita 😭🫵🏻
Nobody talks about how much strength pilates actually takes.
ini waktu gw kebandung sama temen2 gw, kebetulan gw dapet tiket hotel gratis karena dulu gw rajin share2 konten2 hotel.
in this ekonomi, selama ada harapan buat ada hasil. kita harus terus berusaha, semangat buat orang2 yang lagi berusaha dengan sekuat tenaga untuk hidup.
menyerah itu wajar kalo capek tapi puter balik ga mau berusaha lagi itu ga boleh ya. kita semua sama2 lagi berjuang.
ganbatte.
If you go up in a balloon like this, how do you get back down?😭
Tau ngga, fase “nggak punya banyak teman kayak dulu, kadang ngerasa sepi, tapi justru hidupnya lebih tenang” itu bukan fase yang aneh atau kurang sehat.
Di psikologi, ini yang sering disebut pergeseran prioritas sosial di masa dewasa. Otak dan sistem saraf manusia memang punya batas kapasitas untuk menjaga hubungan yang bermakna. Waktu masih muda, jumlah teman banyak terasa penting karena jadi sumber validasi dan pengalaman.
Tapi seiring bertambahnya usia, sistemnya pelan-pelan belajar: yang bikin rasa aman bukan banyak orang, melainkan sedikit orang yang benar-benar ada.
Makanya yang terjadi biasanya begini.
Lingkaran pertemanan menyusut bukan karena orangnya jadi sombong atau anti sosial, tapi karena energi mentalnya sudah dialihkan. Drama, basa-basi, dan hubungan yang cuma ramai di permukaan mulai terasa mahal.
Sistem saraf yang sudah lelah dengan konflik kecil-kecilan akhirnya lebih memilih ketenangan. Yang tersisa biasanya hubungan yang dalam — paling sering pasangan, karena di situ attachment figure-nya sudah terbentuk. Pasangan jadi orang yang sistem saraf anggap sebagai sumber rasa aman utama. Jadi, meski teman berkurang, rasa “ada yang di garda depan” tetap ada.
Rasa sepi yang kadang muncul itu wajar. Tapi di fase ini, sepinya biasanya beda dengan kesepian mendalam. Ini lebih ke kesepian yang dipilih. Otak sudah terbiasa dengan ruang yang lebih sepi, dan selama ada satu hubungan yang stabil, sistemnya tidak merasa terancam. Yang sering terjadi justru penurunan stres.
Tidak perlu lagi mengelola banyak hubungan dangkal, tidak perlu terus menyesuaikan diri, dan tidak perlu terus validasi dari luar. Hidup jadi lebih slow karena perhatiannya sudah lebih fokus ke dalam: pasangan, rutinitas yang tenang, dan kebutuhan diri sendiri.
Yang perlu diingat, fase ini sehat selama rasa sepinya tidak berubah jadi isolasi total. Pasangan memang bisa jadi garda terdepan, tapi sistem saraf manusia tetap butuh sedikit variasi koneksi, meskipun jarang. Satu atau dua teman yang berkualitas, yang tidak menuntut drama, biasanya cukup untuk menjaga keseimbangan. Kalau semua kebutuhan emosional hanya ditopang satu orang, lama-lama beban itu bisa terasa berat, baik buat diri sendiri maupun buat pasangan.
Intinya, fase ini bukan tanda orangnya “kurang teman” dalam arti bermasalah. Ini lebih ke tanda bahwa prioritas hidupnya sudah bergeser dari “banyak dan ramai” ke “dalam dan tenang”. Yang bikin orang di fase ini biasanya lebih stabil bukan karena dia tidak pernah sepi, tapi karena dia sudah lebih nyaman dengan ketenangan, dan sudah punya satu tempat untuk bersandar tanpa harus terus mencari validasi dari banyak orang.
Mas Gandol retweeted
Tips biar nggak gampang capek sama hidup:
Guys, syukuri yang udah ada. Jangan ngejar terus sampai lupa menikmati apa yang sekarang sudah kita punya.
Nggak semua hal harus dimiliki, nggak semua pencapaian harus disusul, dan nggak semua orang harus kita lampaui.
Sesekali berhenti, lihat sekeliling, ternyata banyak hal yang dulu kita doakan sekarang sudah jadi bagian dari keseharian.
Hidup bukan lomba siapa paling cepat sampai. Jangan sampai sibuk mengejar masa depan, tapi kehilangan bahagia di hari ini.
Ambisi boleh tinggi, tapi hati jangan sampai kehabisan ruang untuk merasa cukup. 🤍

















































