Pinned Tweet
I really wanna do more of these but my phone keeps crashing before I can save. SMDH. I’m finna cheat like some of these instafamous Katz who prerecord & autotune they shit. LoL. @ Sugar Hill Historic District instagram.com/p/B6eiBpvJx0Y/… – at Manhattan, NY
Rasul A-Salaam retweeted
Cleveland polygamous 'pastor' Israel Ford explains that, as he considered taking Wife#2, all three fasted and prayed about it. He claims God spoke to him and the new woman in a dream and told them he approved of it, but notably did not appear to or tell Wife#1 these new plans.
Later, he says he came out and married a second wife to set an example for other pastors and people, so he could "walk the walk" and not just "talk the talk."
Rasul A-Salaam retweeted
The TV show Black-ish is so funny and educational. From new mothers to seasoned parents, honestly, everyone can learn a thing or two from it! 🎬🎥
Rasul A-Salaam retweeted
This lovely lady was capable of calming fierce dogs. She had a bundle of patience.
Rasul A-Salaam retweeted
Very interesting—can you do it?
Rasul A-Salaam retweeted
This is an interesting video, the first time I'm hearing of this thing called "code switching". And it makes sense. People's lived experiences can help them shift effortlessly between accents/styles/languages/cultural registers depending on context and audience. They're not fake.
Rasul A-Salaam retweeted
This heavy clogged pores needed serious cleaning.
Wait until you see the most stubborn one finally cleared.
She stole gas from the wrong man
Kondisi psikis wanita yang lagi dalam survival mode itu biasanya bukan cuma “stres biasa”. Otaknya udah terbiasa mode siaga. Sistem sarafnya terus nyari aman, bukan karena dia pengen overthinking, tapi karena tubuhnya udah belajar: istirahat dulu bisa bahaya.
Dia kelihatan kuat di luar. Bisa kerja, bisa urusin orang, bisa ketawa, bisa “baik-baik aja”. Padahal di dalam, sarafnya masih nunggu ancaman berikutnya. Makanya susah bener-bener rileks. Bahkan saat lagi sendirian, otaknya tetap scan: “Aman nggak ya? Nanti gimana? Kalau aku diam, apa yang rusak?”
Emosinya sering dua arah. Kadang meledak (mudah marah, cemas, overthinking kecil-kecil). Kadang mati rasa (numb, datar, susah ngerasain senang atau sedih yang utuh). Itu bukan karena dia dingin. Itu mekanisme perlindungan. Kalau terus ngerasa, terlalu berat. Jadi otak pilih redupkan dulu biar masih bisa jalan.
Dia juga sering susah minta tolong atau nerima bantuan. Bukan sombong. Karena dulu, “harus kuat sendiri” itu yang bikin dia selamat. Kalau tiba-tiba ada orang yang mau ngurus, tubuhnya malah curiga: “Ini jebakan nggak? Nanti ditinggal lagi kan?” Makanya ada rasa bersalah kalau lagi istirahat, atau merasa cuma berharga kalau lagi produktif.
Harga dirinya sering nempel di “aku masih bisa nanggung”. Bukan di “aku layak diurus”. Dia rela nahan red flag, rela jadi yang selalu available, karena otaknya bilang: kehilangan itu lebih menakutkan daripada kelelahan. Padahal kelelahan itu udah menumpuk lama.
Survival mode itu pintar buat bertahan jangka pendek. Tapi kalau terlalu lama, dia bikin wanita itu hidup seperti mesin: jalan terus, tapi rasanya kosong. Bukan karena dia lemah. Justru karena dia udah terlalu lama belajar bahwa aman itu harus diraih sendiri.
Sampai suatu titik, otaknya mulai belajar lagi: aman itu nggak harus terus siaga. Bisa juga datang pelan, lewat orang yang konsisten, lewat batas yang dia pegang, atau lewat dia sendiri yang akhirnya bilang “cukup”. Tapi proses itu memang nggak instan. Karena tubuhnya dulu diajarin sebaliknya.
Rasul A-Salaam retweeted
Friend: I saw your ex.
Me: Good for you, gurl.
Friend: Would you ever consider taking him back?
Me: *ahem* 🎤


























