Dev (@textfeeling__) header
Dev (@textfeeling__) profile picture

0%

Joined July 2025
Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)Photo by Dev (@textfeeling__)
semoga kita semua financial freedom
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left. Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself. There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
2
95
Dev retweeted
Nawaitu 4 sehat 5 Miliar
1
2
73
Dev retweeted
Nawaitu 4 sehat 5 Miliar
3
4
330
Dev retweeted
Wife caught cheating with store employee
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left. Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself. There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
422
299
1
820
36,174
Dev retweeted
Biasanya kuat cuma sampai 3 kilometer, teeus jadi 5 kilo, sekarang udah kuat 7 kilo✌🏻
440
359
491
237,633
Dev retweeted
Biasanya kuat cuma sampai 3 kilometer, teeus jadi 5 kilo, sekarang udah kuat 7 kilo✌🏻
3
101
91
810
Dev retweeted
Nawaitu 4 sehat 5 Miliar
209
106
203
822
Nawaitu 4 sehat 5 Miliar
3
4
330
video by me Jp 3
4
6
467
Dev retweeted
Nawaitu 4 sehat 5 Miliar
432
236
453
161,736
Dev retweeted
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left. Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself. There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
402
158
373
4,747
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left. Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself. There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
85
20
3
93
13,031
Nawaitu 4 sehat 5 Miliar
224
94
4
217
151,180
Girl, marry a man who still asks about your day when his own has been exhausting. Being asked ‘how was your day?’ never gets old, especially when it comes from him. Trust me, Emotional availability is just as important as love. The right person won't let their own struggles make you feel forgotten.
194
75
3
226
1,848,703
Dev retweeted
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas. Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”. Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan. Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”. Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain. Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian. Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan. Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
433
183
402
1,926
Dev retweeted
Women may act like little girls when they feel protected and strongly attracted to you. They act like mothers when they see you as a worthless loser.
143
174
281
96,499
Dev retweeted
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas. Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”. Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan. Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”. Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain. Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian. Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan. Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
426
268
501
133,546
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas. Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”. Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan. Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”. Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain. Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian. Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan. Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
345
129
313
1,595
video by me jatim park 3
1
3
480
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas. Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”. Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan. Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”. Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain. Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian. Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan. Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
240
110
4
253
105,911