semoga kita semua financial freedom
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left.
Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself.
There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
Wife caught cheating with store employee
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left.
Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself.
There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
Dev retweeted
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left.
Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself.
There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
Dev retweeted
Girl to girl: May your income grow so big that you can give, bless, and still have plenty left.
Not just having enough to live comfortably, but having enough to be generous without worrying about whether I’ll have enough left for myself.
There’s something so beautiful about building a life where you can take care of yourself AND be a blessing to others. Praying this over every woman working toward that kind of freedom!
Dev retweeted
Girl, marry a man who still asks about your day when his own has been exhausting.
Being asked ‘how was your day?’ never gets old, especially when it comes from him.
Trust me, Emotional availability is just as important as love. The right person won't let their own struggles make you feel forgotten.
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas.
Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”.
Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan.
Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”.
Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain.
Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian.
Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan.
Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
Dev retweeted
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas.
Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”.
Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan.
Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”.
Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain.
Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian.
Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan.
Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas.
Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”.
Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan.
Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”.
Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain.
Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian.
Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan.
Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.
Dev retweeted
Tau ngga, kadang orang yang selalu panjang lebar ngejelasin sesuatu, bukan karena dia suka cerita atau takut dianggap kurang jelas.
Dia cuma sudah terlalu sering merasakan, kalimat pendek itu bisa jadi jebakan. Satu kata yang kurang, satu alasan yang belum selesai, langsung diubah jadi “kamu nggak peduli” atau “kamu bohong”.
Sistem sarafnya jadi terbiasa mengisi semua celah dulu. Motif, konteks, disclaimer, maaf, semuanya dijejelin sebelum orang lain sempat mengisi sendiri. Bukan karena dia nggak percaya sama pendengarnya, tapi karena dulu pendengarnya sering mengisi dengan cara yang menyakitkan.
Yang terjadi pelan-pelan adalah dia jadi sulit berhenti di tengah kalimat. Diam terasa seperti menyerahkan kendali. Diam terasa seperti mengundang versi cerita orang lain yang bisa mengubah dia jadi “yang salah”.
Di luar, itu kelihatan seperti orang yang terlalu detail atau terlalu peduli. Di dalam, itu lebih mirip kebiasaan menjaga diri biar tidak lagi harus memperbaiki nama baiknya setelah fakta diubah orang lain.
Bukan karena dia nggak bisa singkat. Tapi karena singkat dulu pernah berakhir dengan dia yang harus menanggung akibatnya sendirian.
Jadi lebih aman kalau semuanya diucapkan dulu, meski capek, meski kadang malah bikin orang yang di seberang jadi bosan.
Dan itu bukan kelemahan karakter. Itu cuma bekas cara bertahan yang belum sempat belajar, bahwa sekarang sebagian orang memang bisa menerima jawaban pendek tanpa mengubahnya jadi senjata.











