Mengutip kata open heart gara gara nonton story si @skipberat pas eew pagi ini
Actually, di masa sekarang ini, selain harus open-minded, kita juga perlu open-hearted alias punya kelapangan hati yang luas. Karena bisa saja orang yang punya pendapat, pemikiran, atau prinsip yang berseberangan dengan kita justru sedang berdiri di barisan yang sama.
You’re unable to view this Post because this account owner limits who can view their Posts. Learn more
Ambil contoh Windah, we all know dia punya pandangan yang homophobic. But again, kita perlu sadar bahwa musuh kita saat ini bukan sekadar orang-orang dengan pandangan yang berbeda dari kita, melainkan rezim tai sialan yang sedang berkuasa.
Kalo pas ga punya pas ada yang butuh tuh rasanya gagal jadi perempuan
Marilah seluruh warga Indonesia mengucapkan habisdi bincil @histellart. Akhirnya bintang officially besar(?)
#BintangKe22 #FinallyBintangBesar
Rinjani Kalyna retweeted
heeey! since today is my day kalau kata namskuy mari kita bersama-sama menggunakan twb beserta header buatan anak bangsa (arigatong sabitmayi)
bingkain.com/bintangsudahbes…
HT untuk meramaikan HUT!
#BintangKe22 #FinallyBintangBesar
buat lu pada kalo lu lupa, our enemy is the regime, remember that. kesampingkan dulu hal hal yang nggak relevan sama kondisi negara sekarang. jangan sampai sibuk saling serang sampai lupa siapa yang harus kita lawan. tolong banget. musuh kita rezim skrg. fokus kesitu dulu.
Rinjani Kalyna retweeted
Algoritma mulai bergeser. Isu-isu receh bermunculan untuk mengalihkan perhatian. Tidak perlu ditanggapi. Tetap fokus pada hal-hal yang substansial dan belum juga selesai
Rinjani Kalyna retweeted
Tentang Windah, sejarah Indonesia penuh hegemoni dan doxa misoginis/patriarkis/dsb, maka mayoritas masyarakat kita posisi awal & dasarnya itu complicity/enabling.
Proses unlearningnya ini panjang.
Complicity/enabling ada level dan variasinya, tentu termasuk cara menghadapinya >>
Eh udah kali gini gininya. We're wni before we're queer anjrot
This Post is from an account that no longer exists. Learn more
You know what's fucking frustrating as someone who works in social research? Spending days, sometimes months, collecting data, and analyzing social issues, only for people to act like creative activism is somehow less valuable than whatever the fuck they consider “real activism.”
Tapi menyamaratakan semua upaya kreatif sebagai aktivisme performatif cuma karena bentuknya nggak sesuai standar lo? That's just fucking ignorant.
We don't need less creative activism. We need creative activism that connects awareness to action.











