Made in Cibinong
[Official] Jersey home Perseden Denpasar Liga Nusantara 2026/27 dari 1919 Apparel yang berkolaborasi dengan @fajarrusalem
π₯π₯Ά
Semoga STY bisa bawa persija juara liga 1
Kata Warganet dan Ulasan: Saat Sejarah Timnas Dipotong, STY Hilang di The Longest Wait!
Ada yang terasa hampa saat lampu bioskop padam dan The Longest Wait mulai berputar. Film ini berhasil menyentuh sisi emosional perjalanan Timnas Indonesia, tangis di ruang ganti, pelukan keluarga, dan getaran kebanggaan saat Merah Putih berkibar.
Tapi semakin dalam cerita berjalan, semakin terasa ada satu nama yang sengaja dihilangkan, Shin Tae-yong. Pelatih yang selama bertahun-tahun membangun fondasi, membawa naturalisasi, dan membawa Timnas ke posisi yang selama ini hanya mimpi.
Tanpa STY, posisi yang sekarang dirayakan itu sulit dibayangkan. Namun di film yang mengklaim mencatat penantian panjang menuju Piala Dunia, namanya hampir tak tersisa, seolah jasa besar itu bisa dihapus begitu saja. Itu yang membuat dada sesak.
Bukan karena filmnya jelek, tapi karena sejarah yang kita saksikan sendiri seolah ditulis ulang di depan mata. Secara keseluruhan, kekuatan film ini terletak pada kemampuannya membuat penonton merasakan sisi manusia di balik jersey Merah Putih.
Wawancara dengan pemain seperti Marselino Ferdinan, Justin Hubner, Egy Maulana, Jay Idzes, dan lainnya, ditambah momen di luar lapangan, berhasil membangun keterikatan emosional. Banyak yang merasakan getarannya saat melihat perjuangan, kebersamaan, dan identitas yang menyatukan latar belakang berbeda di bawah satu lambang Garuda.
Aspek sinematik dan narasi human interest-nya cukup kuat untuk sebuah dokumenter olahraga Indonesia.
Namun, lubang besar itu tetap menganga: absennya Shin Tae-yong.
Ia adalah sosok yang membangun fondasi tim modern, membawa naturalisasi, dan memimpin Timnas melalui sebagian besar kampanye 2023β2024 hingga berada di posisi kompetitif di putaran ketiga. Ia dipecat PSSI pada 6 Januari 2025 di tengah perjalanan kualifikasi, digantikan Patrick Kluivert.
Film yang merekam periode tersebut justru menghilangkan namanya, sementara nama pelatih lain seperti Patrick Kluivert (PK) dan John Herdman (JH) tetap hadir.
Hal ini menimbulkan kesan selektif yang sulit diabaikan. Banyak penonton dan pengamat merasakan ada upaya menulis ulang timeline.
Kemenangan atau momen penting yang terjadi di era STY seolah digeser atau dilewati, sementara pergantian pelatih dan fase berikutnya lebih menonjol. Contoh yang disebut-sebut termasuk penempatan hasil tertentu ke periode Patrick, serta lompatan narasi dari laga China langsung ke pemecatan STY tanpa memberi ruang pada jasa pembangunan skuad. Padahal, tanpa fondasi yang diletakkan STY beserta para pemain dan staf pada masa itu, posisi yang dicapai Timnas, dan bahkan keberadaan film ini, sulit dibayangkan.
Kritik ini bukan sekadar soal βfans STYβ. Hubungan PSSI dengan STY memang berakhir kurang harmonis, dengan alasan evaluasi komunikasi dan strategi. Namun, menghapus hampir seluruh kontribusinya dari dokumenter resmi yang diproduksi bekerja sama dengan federasi terasa seperti penghapusan sejarah.
Penonton yang mengikuti perjalanan Timnas sejak 2020-an merasakan kekosongan itu, apalagi film ini diposisikan sebagai catatan panjang penantian menuju Piala Dunia. Kehadiran PK dan JH tanpa konteks pembangun sebelumnya membuat narasi terasa tidak utuh dan cenderung memihak versi tertentu.
Pada akhirnya, The Longest Wait tetap layak ditonton bagi yang ingin merasakan emosi dan kisah personal para pemain. Ia berhasil sebagai film human interest yang membangkitkan kebanggaan. Namun sebagai dokumenter sejarah perjalanan Timnas, ia gagal karena menghilangkan tokoh kunci yang membawa tim ke posisi tersebut.
Penghormatan pada pemain tetap ada, tapi ketidaklengkapan narasi terhadap STY meninggalkan rasa kecewa yang jujur dan sulit diabaikan oleh mereka yang mengikuti perjalanannya secara utuh. Film ini bagus di banyak sisi, tapi penghilangan itu memang menyebalkan.
#STY
Jerseyforum udh tau blm ini ya
mang @Ekomaung leres ieu ngaACC Kolaborasi pembuatan produk bajakan?
Kalo saya sih tadi lebih milih solat subuh dan berdzikir abis itu tidur karena sorenya main mini soccer
Hah 79? Seumuran ama emak gua
Ingat jam 20 : 00 WIB ya buat kalian klarifikasi,kalau tdk serentak di Instagram akan muncul jejak digital kalian duo @SistersInDanger
Lu ngeri juga Muhammad Berkah Gamulya 79 bisa manipulatif Cewek 2000 an jadi partner donasi dgn jual pejuang kekerasan wanita,cocok sih klean
Kalo bener begitu hukumannya mah yg seneng pacar gua karena gak ditinggal ke luar kota buat away days






































