Replying to @1stPerformer
ㅤ
Pada bentang semesta yang nir batas, awan menggantung rendah mendampingi semarak candra yang melebur bersama kelam malam. Gemerlap cahaya telah merambat, berubah menjadi nyala kehangatan. Para insan nyaris kalah pada perlombaan waktu. Netra yang meniti puak tersebut mengambil alih fokus.
ㅤ
ㅤ
“As a great witch once said, ‘it matters not what someone is born but what they grow to be’, we are much obliged to witness immense potential here in Hogwarts.” Pandang netranya terayun pada Ivoire. “Even the most spectacular show has to end. So shall it be. I hereby declared the Triwizard 2024 is concluded!”
ㅤ
ㅤ
“Very well. Truth may be obfuscated beyond the veil and corrupted by darkness. It might be hidden or stolen, yet one is called a fool for stopping to believe in the truth. For truth prevailed over the magic itself. You are forgiven, Ivoire.”
ㅤ
ㅤ
Sejatinya, sang kenya tidak memiliki tujuan untuk kerap terjerat dalam detonasi emosi yang meluap menjadi fiksasi. Bara kekecewaan dalam hatinya telah lama mati. Berdamai adalah jalan keluar tunggal. Sorot pandangnya menyapu sepenjuru sudut aula. “Now, let’s move forward to award our champions!”
ㅤ
Replying to @Triwizard2024
ㅤ
Sangkala pantulan cahaya menaungi para puak, kerlipnya mengambil alih atmosfer euforia. “Welcome! Welcome to the very end of Triwizard 2024 voyage. Our fellow wizards and witches, how are you getting on?”
ㅤ
Replying to @The3rdTask
ㅤ
Empat buah bola relik berkilat-kilat. Walau terpatri sejajar dengan sorot netra, tiap sisinya menyimpan rahasia. Hal yang diketahui; pilihan yang dijatuhkan para insan akan merentang batas keahlian sihir mereka masing-masing.
ㅤ
ㅤ
Sepasang tungkai membelah titik-titik atmosfer magis demi menyambangi Ruang Kebutuhan. Sebagaimana keamanan ialah prioritas, probabilitas bahwa kegelapan masih menjejak 'tak luput darinya. Pada sekon yang nyaris bertabrakan, ia memanipulasi agar eksistensi para partisipan tetap terpatri di lukisan sebelumnya.
ㅤ
Replying to @Triwizard2024
ㅤ
Gulungan ombak yang menabrak karang memecah dan menciptakan buih asin. Dari ujung netra, terpatri jelas hasrat penyihir yang berkilat-kilat. Beribu sesal terpangku pada diri sebab walau eksistensinya eksplisit, ialah bayangan di antara cahaya magis dan puak penyihir.
ㅤ
⠀
Tatkala para cendekiawan berkata paras bukan pembungkus impresi mutlak, cahaya merah yang menghujaninya ialah bukti dari ketidaksetujuan. “Expelliarmus!” Seru-seruan berkumandang, para penyihir berkompetisi siapa yang menjadi pahlawan terbesar?
ㅤ
Replying to @WarlockGrey
ㅤ
Tatkala cahaya bertabrakan dengan cahaya, ada lebih dari dua orang penyihir yang tengah mempertahankan keyakinannya. Sangkala vokal tak lagi terdengar, mantra adalah jalan keluar. Mati-matian ia melindungi diri dan prinsip dari serangan tanpa jeda.
ㅤ
Replying to @WarlockGrey
ㅤ
Mereka bilang euforia ialah fana, teror ialah abadi. Sebab tatkala lengannya menghempas para insan yang mengelilingi cawan api bak sebuah cincin, raut wajah ngeri bertumbuk dengan gurat kuriositas yang terpatri nyata.
ㅤ



