MBDW retweeted
Tahun 1733, nyaris 50% orang Belanda yang mendarat di Batavia meninggal dalam setahun gara-gara wabah Malaria.
Penyebabnya bentuk kotanya. Batavia niru kota di Belanda dengan kanalnya, endapan Ciliwung membuat airnya jadi dangkal dan diam.
Akhirnya, tahun 1808, Daendels memindahkan kota 5 km ke selatan, ke Weltevreden.
ArchiStory
MBDW retweeted
Makasih banyak Pak @MasJacob dan MBDW yang udah mengundang kami!
Pamerannya keren BANGET!
Ini bukan paid promote ya! Kami shout out karena memang acara dengan tema seputaran ruang kota, desain inklusif, sejarah urban, sampai sustainability sering kali masih eksklusif buat kalangan pelaku industri aja.
Makanya penting banget untuk disebarkan ke khalayak luas melalui acara-acara di ruang publik.
Oh ya ini tak cuma di Blok M, tapi juga di Pasar Baru, Medan, Surabaya, Yogyakarta, Solo, sampai Bali.
Acaranya sampai tanggal 1 November. Yuk mampir ya guys! 🙌
MBDW retweeted
Hidup kamu kebagi jadi 3 ruang.
PERTAMA: rumah. Tempat privat, kamu bisa jadi diri sendiri tanpa topeng.
KEDUA: kantor, kampus, sekolah. Tempat produktif, ada peran yang harus dimainkan.
KETIGA: ruang antara. Tempat ngumpul tanpa tuntutan.
Sayangnya, banyak kota di Indonesia kekurangan yang ketiga.
Tanpa ruang publik yang bebas, rumah cuma jadi tempat tidur, kantor tempat peras tenaga, sementara ruang publik sisanya tergentrifikasi jadi tempat belanja dan habisin duit.
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Ada yang aneh di Kampung Batik Kauman, Surakarta.
Sehabis direvitalisasi dengan anggaran mencapai miliaran, galeri batik tulisnya malah makin berkurang.
Digantikan lonjakan gerai kuliner hingga 4x lipat.
Padahal, industri batik Kauman punya sejarah panjang.
Lahir dari pembagian kerja rumah tangga: saat abdi dalem pria ngurus tugas Keraton, para istri membatik kain pakem di rumah.
Gimana bisa pemugaran fisik malah berubah jadi ancaman bagi tradisi?
A thread 🧵 by Narasi Visual
MBDW retweeted
Ada yang ANEH di Pasar Baru.
Gapura merah gede di depannya bukan bangunan peninggalan. Ia dibangun tahun 2000 untuk pencitraan pariwisata.
Ironinya, bangunan berusia lebih dari seabad kayak Toko Kompak justru terabaikan. Padahal bekas rumah Mayor Tio Tek Ho abad ke-19 ini adalah salah satu contoh tipologi ruko Tionghoa-Eropa paling langka di Jakarta.
Kok bisa kota kita terjebak fetish visual dan malah sibuk nempel ornamen daripada rawat cagar budaya asli?















