Pinned Tweet
Pada 1733, separuh orang Eropa di Batavia TEWAS gak sampai setahun setelah mendarat.
Batavia sampai dijuluki Kuburan Orang Belanda.
Kanal yang dangkal jadi sarang nyamuk. Daendels mundur ke Weltevreden di Selatan.
Dari situ, lahir pusat perbelanjaan baru yang masih digunakan sampai sekarang.
Namun ada yang ANEH.
Gapura merah gede di Pasar Baru itu bukan bangunan peninggalan. Dibangun tahun 2000 demi pencitraan wisata.
Ironinya, bangunan berusia lebih dari seabad kayak Toko Kompak justru terabaikan.
Nat & Ver retweeted
Tahun 1733, nyaris 50% orang Belanda yang mendarat di Batavia meninggal dalam setahun gara-gara wabah Malaria.
Penyebabnya bentuk kotanya. Batavia niru kota di Belanda dengan kanalnya, endapan Ciliwung membuat airnya jadi dangkal dan diam.
Akhirnya, tahun 1808, Daendels memindahkan kota 5 km ke selatan, ke Weltevreden.
ArchiStory
Nat & Ver retweeted
Kamu pikir lompat batu Nias hanya sekedar melompat biasa?
Bayangkan hidup pada masa ketika konflik antarkampung bisa berujung peperangan. Kampung memiliki pagar pertahanan, sementara para pemuda harus memiliki ketangkasan untuk menghadapi berbagai rintangan.
Dalam situasi seperti itulah kemampuan melompat punya arti yang jauh lebih besar.
Tahun 1733, nyaris 50% orang Belanda yang mendarat di Batavia meninggal dalam setahun gara-gara wabah Malaria.
Penyebabnya bentuk kotanya. Batavia niru kota di Belanda dengan kanalnya, endapan Ciliwung membuat airnya jadi dangkal dan diam.
Akhirnya, tahun 1808, Daendels memindahkan kota 5 km ke selatan, ke Weltevreden.
ArchiStory
Nat & Ver retweeted
Iming-iming “akhirat” ini ada versi modernnya juga, yaitu iming-iming “korporat.” 🤭
“Masih muda jangan fokus ngejer duit. Fokus belajar dulu.”
“Magang di sini lumayan banget loh buat CV lo. Itung-itung pengalaman. Gak semua orang bisa masuk.”
“Nanti gue refer deh ke kenalan-kenalan gue.”
Manusia zaman sekarang gak takut lagi dengan akhirat, makanya “reward”-nya diganti.
Pokoknya besok, nanti, suatu saat kamu bisa nyicip hasil jerih payahmu selama ini.
Pertanyaannya kapan? Yang jelas bukan hari ini. Besoknya lagi, lagi, dan lagi… tiada akhir.
Orang Indonesia, terutama yang muslim, paling ga pernah “diceramahi” dengan kalimat ini: “Hitungan Allah beda sama hitungan manusia”.
Satu kalimat pendek ini berfungsi sebagai ruang perlindungan. Saat sistem ekonomi manusia tidak berpihak, kita dihibur oleh keyakinan bahwa takdir Ilahi bekerja dengan logika yang melampaui perhitungan matematis. Kalimat ini seringkali memberi keteguhan untuk terus berusaha, meyakinkan bahwa terlepas dari segala kemustahilan, suatu saat mereka akan bisa memiliki apa yang mereka inginkan.
Karl Marx sendiri mengakui bahwa agama adalah necessary heart in a heartless world.
Tragedinya adalah, iman dipaksa menjadi peredam benturan atas kegagalan sistemik. Ketika dampak yang bersifat sistemik sepenuhnya diterjemahkan sebagai kehendak Ilahi, mekanisme yang melahirkan ketimpangan tersebut justru terlindungi dari kritik.
Sistem yang dominan mempertahankan kekuasaannya dengan menanamkan sejenis common sense ke dalam kehidupan sehari-hari. Upah murah, harga hunian yang tak terjangkau, standar hidup yang jauh dari layak dibingkai sebagai ujian spiritual yang harus dihadapi dengan doa dan kesabaran. Negara seakan dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk menyediakan upah layak dan hunian yang terjangkau.
Kalaupun sadar tentang kekerasan struktural ini, biasanya masyarakat akan mendoakan pemimpin dan pejabat negara agar mendapat balasannya di akhirat kelak.
Tapi ya gimana. Opsi yang tersisa memang tak banyak. Ketika mencoba vokal menuntut hak, resiko yang menanti bukan cuma himpitan ekonomi, tapi kekerasan fisik yang nyata. Kita terjebak dalam ironi yang melingkar: diam menerima ketidakadilan, atau bersuara lalu dihadiahi hantaman dari pihak yang digaji menggunakan pajak rakyatnya sendiri.
Iming-iming “akhirat” ini ada versi modernnya juga, yaitu iming-iming “korporat.” 🤭
“Masih muda jangan fokus ngejer duit. Fokus belajar dulu.”
“Magang di sini lumayan banget loh buat CV lo. Itung-itung pengalaman. Gak semua orang bisa masuk.”
“Nanti gue refer deh ke kenalan-kenalan gue.”
Manusia zaman sekarang gak takut lagi dengan akhirat, makanya “reward”-nya diganti.
Pokoknya besok, nanti, suatu saat kamu bisa nyicip hasil jerih payahmu selama ini.
Pertanyaannya kapan? Yang jelas bukan hari ini. Besoknya lagi, lagi, dan lagi… tiada akhir.
Orang Indonesia, terutama yang muslim, paling ga pernah “diceramahi” dengan kalimat ini: “Hitungan Allah beda sama hitungan manusia”.
Satu kalimat pendek ini berfungsi sebagai ruang perlindungan. Saat sistem ekonomi manusia tidak berpihak, kita dihibur oleh keyakinan bahwa takdir Ilahi bekerja dengan logika yang melampaui perhitungan matematis. Kalimat ini seringkali memberi keteguhan untuk terus berusaha, meyakinkan bahwa terlepas dari segala kemustahilan, suatu saat mereka akan bisa memiliki apa yang mereka inginkan.
Karl Marx sendiri mengakui bahwa agama adalah necessary heart in a heartless world.
Tragedinya adalah, iman dipaksa menjadi peredam benturan atas kegagalan sistemik. Ketika dampak yang bersifat sistemik sepenuhnya diterjemahkan sebagai kehendak Ilahi, mekanisme yang melahirkan ketimpangan tersebut justru terlindungi dari kritik.
Sistem yang dominan mempertahankan kekuasaannya dengan menanamkan sejenis common sense ke dalam kehidupan sehari-hari. Upah murah, harga hunian yang tak terjangkau, standar hidup yang jauh dari layak dibingkai sebagai ujian spiritual yang harus dihadapi dengan doa dan kesabaran. Negara seakan dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk menyediakan upah layak dan hunian yang terjangkau.
Kalaupun sadar tentang kekerasan struktural ini, biasanya masyarakat akan mendoakan pemimpin dan pejabat negara agar mendapat balasannya di akhirat kelak.
Tapi ya gimana. Opsi yang tersisa memang tak banyak. Ketika mencoba vokal menuntut hak, resiko yang menanti bukan cuma himpitan ekonomi, tapi kekerasan fisik yang nyata. Kita terjebak dalam ironi yang melingkar: diam menerima ketidakadilan, atau bersuara lalu dihadiahi hantaman dari pihak yang digaji menggunakan pajak rakyatnya sendiri.
Nat & Ver retweeted
Di tengah gempuran AI yang mematikan peluang entry level job, kalau kamu mau serius freelance di UpWork/Fiverr, naikkin level seller-mu itu penting banget.
Ibarat pas belanja di Tokped/Shopee, kamu lebih percaya toko biasa... atau yang ada badge-nya?
Nah. Buyer di platform freelance mikirnya PERSIS sama. Banyak yang bahkan filter pencarian berdasarkan level seller.
Aku sendiri sekarang Top Rated Seller, dan efeknya ke kepercayaan klien itu signifikan banget.
A thread 🧵 by Narasi Visual
Di tengah gempuran AI yang mematikan peluang entry level job, kalau kamu mau serius freelance di UpWork/Fiverr, naikkin level seller-mu itu penting banget.
Ibarat pas belanja di Tokped/Shopee, kamu lebih percaya toko biasa... atau yang ada badge-nya?
Nah. Buyer di platform freelance mikirnya PERSIS sama. Banyak yang bahkan filter pencarian berdasarkan level seller.
Aku sendiri sekarang Top Rated Seller, dan efeknya ke kepercayaan klien itu signifikan banget.
A thread 🧵 by Narasi Visual
Actionable-nya:
1. Buka halaman level overview di platformmu (Fiverr: menu Growth & Marketing). Di situ keliatan persis metrik mana yang udah/belum terpenuhi
2. Garap SATU metrik bottleneck, jangan semua sekaligus (metode Part 16)
3. Jangan pernah minta/maksa buyer kasih bintang 5 demi ngejar level, itu pelanggaran TOS, bisa kena warning yang justru ngunci levelmu
Nat & Ver retweeted
Aku coba buat video ini dengan menonton tutorial yt dan membaca panduan yg disebar sama mutual di X. Hasilnya begini kira-kira.
Memang masih belum bagus kek kawan2 yg lain. Tapi bangga sendiri sama usaha buat belajar skill baru. 😄😄
Nat & Ver retweeted
Makasih banyak Pak @MasJacob dan MBDW yang udah mengundang kami!
Pamerannya keren BANGET!
Ini bukan paid promote ya! Kami shout out karena memang acara dengan tema seputaran ruang kota, desain inklusif, sejarah urban, sampai sustainability sering kali masih eksklusif buat kalangan pelaku industri aja.
Makanya penting banget untuk disebarkan ke khalayak luas melalui acara-acara di ruang publik.
Oh ya ini tak cuma di Blok M, tapi juga di Pasar Baru, Medan, Surabaya, Yogyakarta, Solo, sampai Bali.
Acaranya sampai tanggal 1 November. Yuk mampir ya guys! 🙌
Makasih banyak Pak @MasJacob dan MBDW yang udah mengundang kami!
Pamerannya keren BANGET!
Ini bukan paid promote ya! Kami shout out karena memang acara dengan tema seputaran ruang kota, desain inklusif, sejarah urban, sampai sustainability sering kali masih eksklusif buat kalangan pelaku industri aja.
Makanya penting banget untuk disebarkan ke khalayak luas melalui acara-acara di ruang publik.
Oh ya ini tak cuma di Blok M, tapi juga di Pasar Baru, Medan, Surabaya, Yogyakarta, Solo, sampai Bali.
Acaranya sampai tanggal 1 November. Yuk mampir ya guys! 🙌















