Misal nih, misal, anak saya sekolah internasional kurikulum cambridge, kelas 11 ambil IGCSE, lanjut foundation year (1 tahun), terus kuliah di UK ambil 4 tahun, lulus langsung M.Eng.
Itu gimana jadinya?
Anjirr 3000 MW, berarti perlu sekitar 600 MMscfd gas, hampir separuh kapasitas LNG Masela.
Biar kebayang, proyek 9 data center di Batam butuh daya 3000 MW.
Total kapasitas PLTU Suralaya di Cilegon, 3400 MW. Total DMN SELURUH Kalimantan, 3300an MW
Nah, itu data center nanti nyalainnya pake apa?
listrikindonesia.com/detail/…
plnipservices.co.id/our-port…
esdm.go.id/en/media-center/n…
Satu buah data center bisa menggunakan listrik sampai ratusan megawatt. 100 MW listrik itu kalau pembangkitan menggunakan gas perlu 20 MMscfd, kalau batubara perlu 1140 ton/hari.
Imbasnya harga listrik naik, yang makin kaya pengusaha tambang, lingkungan rusak.
Ngeliat MBG yg katanya program untuk rakyat tapi dari kaca mata investor dan industri aja udah gak tepat sih.
Kalau gitu namanya aja ganti jadi proyek MBG.
abang ini cerita awalnya dia tidak setuju mbg distop sementara:
- kasihan investor dapur, supplier, dan karyawan sppg
- tapi setelah dilihat dari kacamata industri pangan yang dia pahami
- dia sadar temannya banyak benarnya
- di perusahaan swasta
- satu konsumen keracunan saja pasti ditangani serius
- karena taruhannya kepercayaan konsumen
- kalau masalahnya cuma operator tidak disiplin
- ya operatornya yang dievaluas
- lini lain jalan terus
- tapi kalau keracunan berulang di banyak dapur dengan supplier beda-beda
- berarti sop-nya yang salah dan semua harus dihentikan dulu
- produknya bahkan ditarik
- sop bisa salah kalau model bisnisnya tidak adil buat semua pihak
- kalau ada yang merasa rugi pasti sop dilanggar, bahan baku diturunkan kualitasnya
- dia bilang pemerintah harusnya jaga kepercayaan rakyat kayak perusahaan jaga kepercayaan pelanggan,
- dan meski sering beda pendapat, kali ini dia dukung tuntutan stop mbg
Ini kok aneh, transfer ke rekening dealer, tp uangnya dimainin sama sales?
Salesnya punya akses ke rekening dealer gitu?
Sedang rame di Sby, SPK di dealer, transfer ke dealer tapi uangnya dimainkan oknum sales
Ini kalo sampe lolos & ga ada tanggung jawab dari pemilik dealer bahaya sih. Kedepan bisa makin banyak yg model beginian 🤦🏽
Cc @WulingMotorsID
Masa sih? Perasaan gue kerja dari gaji dua digit ke tiga digit gak pernah ada pertanyaan “insightful” kayak gini. Kalau perusahaannya bener sih, dia udah tahu skill orang yg di-hire buat apa dan ekspektasi apa.
Lumayan jualan jersey
🚨 Excl: Man United close to agreement with Lille for Calvin Verdonk. Deal for 29yo #losclille left-back worth £17m + 8m add-ons. Indonesian international given permission to do medical before joining #mufc on 10+1yr contract.
@TheAthleticFC
Wow panic buying kah???
Opsi 1 LNG
300 Mmscfd setara 2 MTPA, kecil untuk onshore LNG, dan masih perlu pengolahan offshore untuk dehydration + AGRU + condensat stab. FPSO masih diperlukan. Dry gas trasport via pipeline.
2 MTPA ini sesuai untuk FLNG. Semua processing offshore, offloading offshore. Simple
Mualem bener.
Aceh punya gas raksasa + infrastruktur KEK Arun bekas Arun NGL yang nganggur, tapi pusat lebih nyaman olah di FPSO tengah laut.
Alasan Bahlil “pipa mahal, harga gas jadi gak kompetitif” itu klasik.
Kompetitif buat siapa?
Buat GSA ke PLN dan industri di luar Aceh?
Aceh sendiri cuma ditawari split 4% gas / 6% minyak di PoD I plus janji multiplier effect yang biasanya cuma sampai tayangan PowerPoint.
Kalau Asta Cita dan hilirisasi itu serius, gas 300 MMSCFD + 7.500 bbl condensate/hari mestinya nyalain pabrik pupuk, methanol, dan industri di Lhokseumawe, bukan cuma jadi kargo di kapal.
MoU Helsinki katanya 70% hidrokarbon Aceh.
Realitanya:
FPSO + split kecil + “nanti ada efek berganda.”
Gubernur daerah yang sampe berani kirim surat ke presiden soal SDA di rumahnya sendiri itu langka.
Kebanyakan cuma senyum sambil nunggu jatah.
Sekarang bola di Prabowo:
Dukung daerah atau tetap loyal ke skema “pusat yang paling paham efisiensi.”
Kalau offshore pakenya FLNG lah, kan gas. Kalau FPSO cuma processing aja, gak ada likuefaksi, jadi harus tetap diekspor pake pipa ke darat.
Keuntungan offshore FLNG:
- gak perlu pipeline yang panjang.
- memaksimalkan produksi tanpa memerlukan kompresor tambahan
Perdebatan Offshore vs Onshore Blok Masela keulang lagi di Blok Andaman
Jadi dalam dunia migas itu sebenarnya pengerjaan eksplorasi, eksploitasi sampai produksi itu biasanya yang bikin perdebatan dan mandeg itu soal kira-kira ini ngerjain offshore atau onshore.
Kalau offshore itu artinya dia pakai entah itu oil rig atau kapal FPSO yang dia narik gas habis itu langsung diekspor keluar. Kelebihannya dari sisi perusahaan itu dia lebih profit dan capex-nya juga tidak terlalu besar serta marginnya bisa lumayan oke.
Kelemahannya memang tidak bisa menciptakan peluang kerja yang banyak karena kan untuk pengeboran migas dan produksinya itu kalau via offshore sebenarnya tidak perlu manpower yang besar.
Sedangkan onshore itu dia mempunyai kelebihan yaitu bisa melakukan pengolahan langsung dan juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak. Karena kerjaan onshore itu kan dari laut narik ke darat, di darat diolah lagi, apalagi mau ada kawasan ekonomi khusus Arun yang bekas PT Arun Badak NGL. Tapi kalau mahalnya adalah kalau onshore itu capex-nya bisa mahal sekali, baik konstruksi pipanya, terus bagaimana pengelolaan di daratnya, siapa offtakernya. Itu bisa bedanya hitungan miliaran dolar.
Nah, harus berkaca dari kasusnya blok Masela yang mandeg selama 10 Tahun lebih. Kenapa? Karena blok Masela itu awalnya kan pengen offshore dari sisi perusahaannya, cuman akhirnya pemerintah Indonesia waktu itu Pak Jokowi pengennya offshore eh onshore. Akhirnya karena Shell tidak sanggup mengingat capex-nya terlalu besar, mundur. Diganti dengan Inpex dari Jepang gabung dengan Petronas dan ada Pertamina di situ.
Ini kan perusahaan yang ngincer blok andaman dari Mubadala Uni Emirat Arab. Kira-kira kalau perubahan skema, pasti perubahan plan of development juga. Mereka kira-kira mengiyakan tidak tawaran dari pemerintah Indonesia termasuk Pemprov Aceh.
Karena kalau Mubadala itu merasa keberatan, pasti mundur dan harus nyari investor baru dan menjajakan ulang dari awal.
Karena ini melihat plan on development atau POD-nya belum disepakati alias masih mandek, itu kemungkinan take time yang lama karena harus negosiasi lagi dan dia belum pada tahap sampai yang betul-betul bisa langsung dikerjain.
Serta juga harus komunikasi tiga arah dengan Mubadala Energi nya juga sebagai yang pegang konsesi di sana. Kira-kira setuju atau tidak?
Kalaupun misalkan keberatan, keberatannya dari sisi apa? Apakah karena capex-nya ketinggian dan belum tentu ROI-nya masuk atau bagaimana?
Kalau misalkan Mubadala mundur, kira-kira investor penggantinya siapa? Itu harus belajar dari kasusnya Shell mundur dari blok Masela dan cari investor barunya take time lagi.






















